• home

Sebuah Kisah Wanita Karir



"Saya adalah seorang ibu dengan 2 orang anak, mantan direktur sebuah perusahaan multinasional. Mungkin Anda menganggap saya termasuk orang yang berhasil dalam karir. Namun sungguh, seandainya saya boleh memilih, maka saya tidak akan menjadi seperti ini dan menganggap apa yang telah saya raih sungguh sia-sia.

Semuanya berawal ketika putri saya satu-satunya yang berusia 19 tahun baru saja meninggal karena overdosis narkotika. Sungguh, hidup saya hancur berantakan karenanya. Suami saya saat ini masih terbaring di rumah sakit karena terkena stroke dan mengalami kelumpuhan, karena memikirkan musibah ini. Putra saya satu-satunya juga sempat mengalami depresi berat dan sekarang masih menjalani perawatan intensif sebuah klinik kejiwaan. Dia juga merasa sangat terpukul dengan kepergian adiknya. Sungguh, apa lagi yang bisa saya harapkan?

Maya mengalami nasib tragis, karena dia terguncang dengan meninggalnya Bi Inah, pembantu kami. Ia pun terjerumus dalam pemakaian narkoba. Mungkin terdengar aneh, meninggalnya seorang pembantu bisa membawa dampak yang begitu hebat pada putri kami.

Harus saya akui bahwa Bi Inah sudah seperti keluarga bagi kami. Dia telah ikut bersama kami sejak 20 tahun yang lalu, ketika Doni berumur 2 tahun. Bahkan bagi Maya dan Doni, Bi Inah sudah seperti ibu kandungnya sendiri.

Ini semua saya ketahui dari buku harian Maya, yang saya baca setelah dia meninggal. Maya begitu cemas dengan sakitnya Bi Inah. Berlembar-lembar buku hariannya berisi tentang hal itu.

Padahal ketika saya sakit (saya pernah sakit karena kelelahan dan diopname di rumah sakit selama 3 minggu), Maya hanya menulis singkat sebuah kalimat di buku hariannya: "Hari ini Mama sakit di Rumah sakit." Hanya itu saja.

Sungguh, hal ini menjadikan saya semakin terpukul. Namun saya akui, ini semua karena kesalahan saya. Saya hanya menyediakan sedikit waktu untuk Doni, Maya, dan Suami saya. Waktu saya habis di kantor. Otak saya lebih banyak berpikir tentang keadaan perusahaan daripada keadaan mereka. Saya berangkat pukul 07:00 dan baru sampai di rumah 12 jam kemudian, bahkan mungkin lebih. Ketika sudah sampai di rumah, rasanya sudah begitu lelah untuk memikirkan urusan mereka.

Memang setiap hari libur kami gunakan untuk acara keluarga, namun sepertinya itu hanya seremonial dan rutinitas saja. Ketika hari Senin tiba, saya dan suami sudah seperti "robot" yang terprogram untuk urusan kantor.

Sebenarnya ibu saya sudah berkali-kali mengingatkan saya untuk berhenti bekerja sejak Doni masuk SMA. Namun selalu saya menolak. Saya menganggap cara berpikir ibu terlalu kuno.

Memang, ibu saya memutuskan untuk berhenti bekerja dan memilih membesarkan kami, 6 orang anaknya. Padahal sebagai seorang sarjana ekonomi, karir ibu waktu itu katanya sangat baik. Sedangkan karir dan penghasilan ayah hanya biasa-biasa saja ketika itu.

Jujur, saya pernah berpikir untuk memutuskan berhenti bekerja dan fokus mengurus Doni dan Maya. Namun selalu saja muncul perasaan, bagaimana kebutuhan bisa terpenuhi kalau berhenti bekerja? Apa gunanya saya sekolah tinggi-tinggi? Meski sebenaranya, suami saya cukup mapan dalam karir dan penghasilan.

Biasanya setelah dinasehati ibu, saya menjadi lebih perhatian pada Doni dan Maya. Namun tidak lebih dari dua minggu, semuanya kembali seperti asal, urusan kantor dan karir menjadi fokus saya. Kembali saya beranggapan masih bisa membagi waktu untuk mereka. Toh teman yang lain di kantor juga bisa dan ungkapan "kualitas pertemuan dengan anak lebih penting dari kuantitas" selalu menjadi patokan saya. Sampai akhirnya semua terjadi. Itu semua di luar kendali saya. Semua berjalan begitu cepat, sebelum saya sempat tersadar.

Maya, anak yang semula begitu manis berubah menjadi pemakai Narkoba. Dan saya tidak mengetahuinya! Sebuah sindiran dan protes dari Maya selalu terngiang di telinga hingga saat ini. Waktu itu Bi Inah pernah memohon untuk berhenti bekerja dan memutuskan kembali ke desa untuk membesarkan Bagas, putra satu-satunya, setelah suaminya meninggal. Namun karena Maya dan Doni keberatan, maka akhirnya kami putuskan agar Bagas dibawa tinggal bersama kami.

Pengorbanan Bi Inah buat Bagas ini sangat dibanggakan Maya. Namun sindiran Maya tidak begitu saya perhatikan. Akhirnya semua terjadi. Setelah tiba-tiba jatuh sakit selama kurang lebih dua minggu, Bi Inah meninggal dunia di Rumah Sakit.

Dari buku harian Maya, saya juga baru tahu kenapa Doni malah pergi dari rumah ketika Bi Inah berada di Rumah Sakit. Memang Doni pernah memohon pada ayahnya agar Bi Inah dibawa ke Singapura untuk berobat, setelah dokter di sini mengatakan bahwa kanker Bi Inah sudah masuk stadium 4. Usul Doni kami tolak, hingga dia begitu marah pada kami. Dari sini saya mengetahuinya betapa berartinya Bi Inah buat mereka. Ia sudah seperti ibu kandungnya, yang menggantikan tempat saya. Seolah saya hanya bertugas melahirkan mereka saja ke dunia. Tragis!

Beberapa bulan yang lalu,kami sekeluarga ke desa Bi Inah. Atas desakan Maya, kami sekeluarga menghadiri acara pengangkatan Bagas sebagai kepala sekolah madrasah, setelah dia selesai kuliah dan belajar di pesantren. Doni pun begitu bersemangat untuk hadir di acara itu, padahal biasanya ia paling susah diajak ke acara serupa di kantor saya atau ayahnya.

Di foto "keluarga" itu tampak Bi Inah, Bagas, Doni dan Maya tersenyum bersama. Tak pernah kami lihat Maya begitu senang seperti saat itu dan seingat saya itulah foto terakhirnya.

Setelah Bi Inah meninggal, Maya begitu terguncang dan shock. Kami sempat merisaukannya dan membawanya ke psikolog ternama di Jakarta. Namun sebatas itu yang kami lakukan. Setelah itu saya kembali berkutat dengan urusan kantor.

Di halaman buku harian Maya, penyesalan dan air mata tercurah. Maya menulis:

"Ya Tuhan, kenapa Bi Inah meninggalkan Maya. Terus siapa yang bangunin Maya? Siapa yang nyiapin sarapan Maya? Siapa yang nyambut Maya kalau pulang sekolah? Siapa yang ngingetin Maya buat berdoa? Siapa tempat Maya cerita kalau lagi kesel di sekolah? Siapa yang nemenin Maya kalo nggak bisa tidur? Ya Tuhan, Maya kangen banget sama Bi Inah".

Air mata saya menetes membaca goresan pena Maya. Bukankah itu seharusnya tugas saya sebagai ibunya, bukan Bi Inah?

Sungguh hancur hati saya membaca itu semua, namun semuanya sudah terlambat, tidak mungkin bisa kembali. Seandainya semua bisa diputar ke belakang, saya rela berkorban apa saja untuk itu.

Kadang saya merenung, sepertinya ini hanya cerita sinetron di TV dan saya pemeran utamanya. Namun saya tersadar, ini realitas dan kenyataan yang terjadi.

Sungguh, saya menulis ini bukan berniat untuk menggurui siapa pun, tapi sekedar pengurang sesal saya semoga ada yang bisa mengambil pelajaran darinya. Biarkan saya yang merasakan musibah ini, karena sungguh tiada terbayang beratnya.

Saat ini saya sedang mengikuti program konseling/terapi untuk menentramkan hati saya. Berkat dorongan seorang teman, saya beranikan diri untuk menulis ini semua. Saya tidak ingin tulisan ini sebagai tempat penebus kesalahan saya, karena itu tidak mungkin! Dan bukan pula untuk memaksa anda mempercayainya, tapi inilah faktanya. Hanya, saya berharap semoga ada yang memetik manfaatnya. Dan saya berjanji untuk mengabdikan sisa umur saya untuk suami dan Doni. Dan semoga Tuhan mengampuni saya yang telah menyia-nyiakan amanah-Nya pada saya.

Dan di setiap doa yang saya lantunkan, saya selalu memohon "Ya Tuhan, seandainya Engkau akan menghukum Maya karena kesalahannya, sungguh tangguhkanlah Ya Tuhan, biar saya yang menggantikan tempatnya kelak, biarkan buah hatiku tentram di sisi-Mu".

Sumber : http://terimakasihibu.blogspot.com/2011/03/kisah-nyata-dari-seorang-wanita-karir.html

Perjalanan Berharga



Aku, seorang muslimah periang (setidaknya, begitulah yang tampak dari luar), berusia 22 tahun. Hidupku penuh dengan kesedihan. Sejak kecil sampai tumbuh besar jarang kukecap bahagia. Namun kukelabui dunia dengan sosokku yang ceria dan penuh canda. Seringkali teman-temanku bertanya, "Ya ukhty, bagaimana caranya supaya tidak pernah sedih seperti anti?" Hanya senyum yang bisa kuberi untuk menjawab pertanyaan, yang sesungguhnya pun ingin kutanyakan pada mereka yang hidupnya bahagia tanpa cela.

Namun sudahlah, takkan kuceritakan kisah sedih masa kecilku. Aku hanya akan mengisahkan pencarianku akan kebahagiaan.

Dua tahun lalu, tepatnya saat usiaku 20 tahun, aku mulai berpikir untuk melepas kesendirian. Niatku pun kusampaikan pada seorang muslimah senior, yang memang sudah beberapa kali menawariku untuk "ta'aruf" dengan beberapa ikhwan. Namun saat itu, semuanya kutolak karena berbagai alasan.

Sampai aku mengenalnya, lewat sebuah situs pertemanan. Dia, Ubaid (bukan nama sebenarnya), seorang mahasiswa di sebuah perguruan tinggi di Timur Tengah. Sosoknya begitu dewasa, santun, lagi berilmu. Segala yang kucari ada padanya. Sayangnya, dia sudah beristri dan memiliki seorang anak. Kutepis hasratku untuk mengenalnya lebih jauh.

Hari demi hari, entah kenapa aku semakin kagum padanya. Walau belum pernah bertatap muka, tapi diskusi kami lewat "chat", kedalaman ilmunya, keindahan susunan kata-katanya, sungguh meninggalkan kesan yang begitu dalam di hatiku. Aku mulai jatuh hati padanya. Ubaid, pria beristri itu!

Ternyata rasaku tak bertepuk sebelah tangan. Hari selanjutnya ia menelponku dan ia menanyakan pandanganku tentang poligami. Aku menjawab bahwa poligami adalah sunah. Sunah yang dibenci kebanyakan orang. Oleh sebab itu, aku kagum pada mereka yang bisa menjalankannya. Pada muslimah tangguh yang mampu mengalahkan egoisme dan "hati"nya untuk berbagi orang yang dicintainya. Bukankah tak akan sempurna iman seseorang sampai ia mampu memberikan pada saudaranya apa yang dia inginkan untuk dirinya sendiri? Blah blah blah, panjang lebar penjelasanku saat itu.

Ubaid mendengarkan, lalu berkata: "Seandainya semua istri berpikiran seperti anti. Maukah anti menjadi permaisuri kedua di istanaku?"

Semburat jingga langit sore itu menjadi saksi kebahagiaanku mendengar permintaannya. Namun syukurlah logikaku masih berjalan. Kukatakan padanya "Bagaimana mungkin antum meminta ana menjadi istri antum, sedangkan bagaimana rupa ana pun antum belum tahu? Juga bagaimana nanti respon keluarga ana dan keluarga antum, mungkinkah mereka akan menerima?" Dia hanya diam.

Lalu aku kembali bertanya: "Apakah istri antum mengetahui, antum ingin berta’addud?" Dia menjawab, "Tidak, tapi pemahamannya sudah baik, insya Allah istri ana akan menerima." Aku tersenyum mendengarnya. Lalu kami pun menyudahi percakapan sore itu.

"Lebih baik kamu ga usah nikah selamanya daripada jadi istri kedua!" Teriak ibuku, saat kutanyakan pendapatnya tentang poligami. Padahal aku belum menanyakan bagaimana pendapatnya, jika akulah perempuan yang dipoligami itu.

Kuutarakan keberatan ibuku kepada Ubaid. Ibuku memang sering melihat contoh poligami orang-orang tidak berilmu yang hanya mengedepankan nafsu. Itu sebabnya beliau sangat menentang. Walau berpuluh kali kukatakan pada ibuku bahwa poligami yang didasari ilmu dan ketakwaan pada Allah tentu akan berbeda cerita.

Ubaid memintaku untuk terus menyakinkan ibuku sampai beliau mau menerima syariat ta’addud. Dia pun berjanji akan melakukan hal yang sama pada istrinya. Meyakinkannya untuk rela berbagi denganku.

Pelan namun pasti, ibuku akhirnya luluh. Beliau tidak lagi mencaci pelaku poligami. Apalagi setelah kuterangkan tentang hukum menolak syari’at atau mengingkari ayat Al-Qur'an. Begitulah ibuku, menentang di awal, kemudian luluh setelah hujjah di tegakkan. Alhamdulillah, Semoga beliau selalu dalam lindungan dan rahmat-Nya.

Kusampaikan kabar gembira itu pada ubaid lewat sebuah pesan singkat. Ia pun membalasnya: "Alhamdulillah, insya Allah liburan musim panas ini, ana akan menikahi anti." Senang hatiku tak terkira.

Empat bulan masa penantian terasa begitu lamaaaa. Tertatih menjaga hati. Karena memang cara ta’aruf kami tidak sepenuhnya benar. Kami sering berkomunikasi lewat chat, telepon, dan sms. Astaghfirullah.

Hari yang dinanti pun tiba. Ubaid datang ke Indonesia. Sendiri, tidak dengan anak istrinya. Pertemuan pertama, semua masih terasa sempurna. Begitu pun saat dia meminangku pada kedua orang tuaku. Sosoknya yang "charming" membuat orang tuaku seolah lupa dengan statusnya yang sudah menikah dan memiliki seorang anak. Hingga di akhir pertemuan itu seorang kerabat mengingatkan bagaimana dengan istri Ubaid. Karena Ubaid meyakinkan bahwa pernikahan kami atas izin dan restu istri pertamanya, orang tuaku akhirnya menyerahkan segala keputusan kepadaku. Tentu saja aku menerimanya. Dengan hati berbunga!

Ikhwan nan lucu, cerdas, berilmu dan tampan itu, akan menjadi suamiku. Gadis mana yang tak bahagia dipinang pria sepertinya?

Setelah tanggal disepakati, Ubaid pamit untuk pulang ke kampung halamannya dan menjemput orang tuanya. Dia akan kembali lagi bulan depan, karena banyak jadwal mengisi kajian di kampung halamannya selama liburan musim panas.

Pada tanggal yang disepakati, Ubaid datang ke rumah. Namun tidak dengan orang tuanya. Orang tuanya ternyata tidak merestui rencana pernikahan kami. Orang tuaku pun tidak akan merestui, jika pernikahan ini tidak mendapat restu dari keluarga Ubaid. Buyar sudah rencana kami untuk menikah.

Ubaid tidak juga mendapat restu orang tuanya sampai masa liburannya berakhir. Dia pun kembali ke Timur Tengah untuk melanjutkan studi, dan tentu saja untuk kembali pada istri dan anaknya. Cemburukah aku? Ah, aku bahkan tak berhak sedikitpun untuk cemburu!

Aku hanya bisa menangis dan menangis. Ingin melupakannya saja, tapi rasa untuknya sudah terhujam sedemikian dalam. Astaghfirullah. Ampuni aku, ya Allaah.

Ubaid memintaku untuk menunggu. Dia berjanji akan menikahiku musim panas tahun depan. Aku yang dungu pun menunggu. Setahun berlalu. Selama itu, beberapa proposal taaruf sudah kutolak dengan alasan "sudah ada calon". Intensitas komunikasiku dengan Ubaid sudah jauh berkurang. Selain karena kesibukannya menghadapi ujian, juga demi menjaga hubungan kami agar tidak melewati batas.

Hingga tiba masa yang kunantikan. Liburan musim panas tahun berikutnya. Ubaid pulang ke Indonesia dengan istri dan dua anaknya. Ya, dua anaknya. Ternyata istrinya baru saja melahirkan anak kedua mereka.

Kunantikan janjinya. Pekan pertama, kedua, dan ketiga. Kapankah Ubaid datang dan menikahiku? Namun sedikit pun tak ada kabar darinya. Lalu aku menelepon temanku, yang juga tetangganya.

Temanku mengabarkan bahwa Ubaid sedang menjaga istrinya di Rumah Sakit. Ternyata pekan lalu, istrinya mencoba bunuh diri dan mengancam akan membunuh bayinya setelah mengetahui rencana pernikahan kami. Allahul musta’an.

Saat itu juga kumantapkan niatku untuk mengakhiri semuanya. Walau sedikit terlambat, akhirnya aku tahu. Ternyata Ubaid tidak pernah menyatakan niatnya menikahiku kepada istrinya. Dia berencana melakukannya secara diam-diam. Dia juga tidak pernah memberitahuku bahwa istrinya mengidap depresi berat.

Singkat kata, aku menyiakan 1,5 tahun usiaku untuk menunggu seseorang yang tak layak kutunggu. Astagfirullah.

Sumber : http://gugundesign.wordpress.com/2011/01/20/izinkan-aku-jadi-bagian-cinta-suamimu-kisah-nyata-poligami-2/

Jalan Hidayah



Setamat sekolah dan kuliah di jurusan Jurnalistik Fakultas Sastra, aku hidup bersama nenekku, yang merupakan ibu dari seniman Ahmad Muzhir, pamanku.

Aku menelusuri jalan-jalan di daerah Zamalik dan bolak-balik ke klub, memamerkan kecantikanku pada mata binatang dengan dalih kebebasan dan peradaban. Nenekku yang sudah tua tak sanggup lagi menghadapiku, apalagi ayah dan ibuku. Memang benar, anak manusia akan hidup seperti binatang, bahkan lebih hina lagi, kecuali yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sungguh aku tidak banyak mengenal Islam selain hurufnya saja. Meskipun berlimpahkan harta dan jabatan, aku tetap merasa takut pada sesuatu. Aku takut pada sumber gas dan listrik. Aku beranggapan Allah akan membakarku sebagai balasan atas kemaksiatan yang kuperbuat. Aku pernah berkata pada diri sendiri, "Jika nenekku yang sakit saja masih mendirikan shalat, bagaimana aku bisa selamat dari adzab Allah?" Jika begitu, aku segera berlari meninggalkan kecemasan hati dengan tidur atau pergi ke klub malam.

Setelah menikah, bersama sang suami aku pergi ke Eropa untuk menjalani yang jamak disebut orang 'bulan madu'. Salah satu yang menarik perhatianku selama di Eropa; ketika aku pergi ke Vatikan di Roma dan ber­maksud memasuki museum kepausan, mereka memak­saku mengenakan pakaian khusus. Begitulah mereka menghormati agama yang telah direkayasa.

Saat itu aku bertanya-tanya, mengapa kita tidak menghormati agama sendiri? Di tengah gelombang kebahagiaan duniawi yang melimpah, aku berkata pada suamiku, "Aku ingin shalat sebagai rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan Allah." Ia bilang, "Lakukan apa yang engkau inginkan, itu kebebasan individu."

Suatu ketika, aku membawa pakaian panjang dan tutup kepala, lalu masuk ke dalam sebuah masjid besar di Paris dan mendirikan shalat. Di depan pintu masjid, aku membuka tutup kepala, melepaskan pakaian panjang, dan ber­maksud menyimpannya di dalam ransel. Tiba-tiba aku dikejutkan oleh kehadiran seorang gadis Perancis bermata biru, yang tiada akan pernah kulupakan sepanjang hidupku, mengenakan hijab.

Dengan lembut ia me­megang tanganku dan menepuk pundakku. Suaranya yang syahdu terdengar menyapa, "Mengapa engkau melepaskan hijab? Tidak tahukah engkau itu bagian dari perintah Allah?" Aku mendengarkannya kebingungan. Ia memintaku masuk ke dalam masjid untuk beberapa saat.

Aku berusaha melepaskan diri darinya, tetapi sopan santunnya yang teguh dan perkatannya yang lemah lembut memaksaku masuk, seperti kerbau dicocok hidungnya.

Gadis itu bertanya kepadaku, "Apakah engkau bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah? Apakah engkau memahami maknanya? Kesaksian itu bukanlah kalimat yang hanya diucapkan oleh lisan, tetapi juga harus dibenarkan dan diamalkan."

Gadis ini telah mengajariku pelajaran paling keras dalam kehidupan. Hatiku terguncang, dan perasaanku takluk pada ucapannya. Setelah itu, ia menyalamiku seraya berkata, "Saudaraku, tolonglah agama ini."

Aku keluar meninggalkan masjid. Pikiranku terus berputar sampai tidak menyadari keadaan di sekitar. Kebetulan pada hari itu juga suami membawaku ke kabaret, tempat kebebasan, di mana laki-laki dan perempuan berdansa dalam keadaan semi telanjang dan melakukan sesuatu seperti dilakukan binatang. Bahkan, mungkin binatang sekalipun enggan melakukan seperti yang mereka lakukan; sedikit demi sedikit satu per satu mereka menanggalkan pakaian. Aku jadi benci pada mereka, bahkan aku membenci diriku sendiri yang telah tenggelam dalam kubangan dosa. Aku minta pada suamiku untuk keluar dari tempat itu, dengan dalih supaya bisa bernapas. Lalu aku langsung pulang ke Kairo.

Di Kairo aku memulai langkah pertamaku berkenalan dengan Islam. Meskipun bergelimang kemewahan duniawi, aku belum mereguk kedamaian dan ketenangan. Namun setiap kali shalat atau membaca Kitabullah, aku serasa semakin dengan dengan semua itu.

Kutanggalkan semua cara kehidupan jahiliahku. Sepanjang siang dan malam aku bertilawah membaca Al-Qur’an. Kubaca buku-buku Ibnu Katsir dan lainnya. Selain itu, aku juga meninggalkan kehidupan klub dan hiburan malam. Aku mulai berkenalan dengan mus­limah. Mula-mula suamiku melarangku berhijab, yang termasuk dalam keputusanku untuk meninggalkan duniaku sebelumnya.

Aku tidak lagi berkumpul bersama laki-laki, baik kerabat maupun bukan, bahkan aku juga tidak ber­salaman dengan mereka. Sungguh cobaan dari Allah! Namun, langkah keimanan yang paling utama adalah berserah diri kepada Allah Subhahanhu wa Ta’ala. Selain itu, menjadikan Allah dan Rasul-Nya paling dicintai daripada yang lain. Akibatnya, timbullah masalah yang membuat aku dan suamiku hampir berpisah.

Alhamdulillah, Islam meniscayakan keberadaannya di tengah rumahku yang kecil. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan hidayah pada suamiku. Sekarang ia lebih baik dariku, menjadi dai yang ikhlas berbuat untuk agama. Kendati menderita penyakit dan mengalami beberapa peristiwa getir dalam kehidupan dunia ini, juga cobaan lain, namun kami tetap berbahagia selama semua itu menerpa kehidupan dunia, bukan agama kami.

Sumber : Buku Kisah Orang-Orang Saleh dalam Mendidik Anak, Pustaka al-Kautsar

Tak Ada yang Bisa Menggantikan Dirimu



Empat tahun yang lalu, kecelakaan telah merenggut orang yang kukasihi. Sering aku bertanya, bagaimana keadaan istriku di alam surgawi, baik-baik sajakah? Dia pasti sangat sedih, karena meninggalkan seorang suami yang tidak mampu mengurus rumah dan seorang anak yang masih begitu kecil.

Begitulah yang kurasakan. Karena selama ini, aku merasa telah gagal, tidak bisa memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani anakku. Aku juga gagal untuk menjadi ayah dan ibu bagi anakku.

Pada suatu hari, ada urusan penting di tempat kerja, sehingga aku harus segera berangkat ke kantor. Anakku masih tertidur saat itu. "Ohhh, aku harus menyediakan makan untuknya," ucapku. Karena masih ada sisa nasi, maka aku menggoreng telur untuk lauknya. Setelah memberitahu anakku yang masih mengantuk, kemudian aku bergegas berangkat ke tempat kerja. Peran ganda yang kujalani, membuat energiku benar-benar terkuras.

Suatu hari ketika aku pulang kerja, aku merasa sangat lelah. Hanya sekilas aku memeluk dan mencium anakku, kemudian langsung masuk ke kamar tidur. Namun, ketika aku merebahkan badan ke tempat tidur untuk tidur sejenak menghilangkan kepenatan, tiba-tiba aku merasa ada sesuatu yang pecah dan tumpah seperti cairan hangat! Aku membuka selimut dan di sanalah sumber 'masalah'nya. Sebuah mangkuk yang pecah dengan mie instan yang berantakan di seprai dan selimut!

Oh, Tuhan! Aku begitu marah. Aku mengambil gantungan pakaian, dan langsung menghujani anakku, yang sedang gembira bermain, dengan pukulan-pukulan. Dia hanya menangis, sedikitpun tidak meminta belas kasihan. Dia hanya memberi penjelasan singkat: "Ayah, tadi aku merasa lapar dan tidak ada lagi sisa nasi. Namun ayah belum pulang, jadi aku ingin memasak mie instan. Aku ingat, Ayah pernah mengatakan untuk tidak menyentuh atau menggunakan kompor gas tanpa ada orang dewasa di sekitar, maka aku menyalakan mesin air minum ini dan menggunakan air panas untuk memasak mie. Satu untuk Ayah dan yang satu lagi untukku. Karena aku takut mienya akan menjadi dingin, jadi aku menyimpannya di bawah selimut supaya tetap hangat sampai Ayah pulang. Namun aku lupa untuk mengingatkan Ayah, karena aku sedang bermain. Aku minta maaf Ayah."

Seketika, air mata mulai mengalir di pipiku. Namun aku tidak ingin anakku melihat ayahnya menangis, maka aku berlari ke kamar mandi dan menangis dengan menyalakan shower di kamar mandi untuk menutupi suara tangisku.

Setelah beberapa saat, aku menghampiri anakku, memeluknya dengan erat dan mengobati luka bekas pukulan di pantatnya. Lalu aku membujuknyauntuk tidur.

Kemudian aku membersihkan kotoran tumpahan mie di tempat tidur. Ketika semuanya sudah selesai dan lewat tengah malam, aku melewati kamar anakku. Aku melihat anakku menangis, bukan karena rasa sakit dipantatnya, tapi karena dia sedang melihat foto ibu yang dikasihinya.

Satu tahun berlalu sejak kejadian itu, aku mencoba untuk memusatkan perhatian dengan memberinya kasih sayang seorang ayah dan ibu, serta memperhatikan semua kebutuhannya.

Tanpa terasa, anakku sudah berumur tujuh tahun, dan akan lulus dari Taman Kanak-kanak. Untungnya, insiden yang terjadi tidak meninggalkan kenangan buruk di masa kecilnya dan dia sudah tumbuh dewasa dengan bahagia.

Guru Taman Kanak-kanaknya memanggilku dan memberitahukan bahwa anakku absen dari sekolah. Aku pulang ke rumah lebih awal. Setibanya di rumah, aku berharap anakku memberi penjelasan. Namun ia tidak ada di rumah.

Kemudian, aku pergi mencari di sekitar rumah kami, memangil-manggil namanya. Akhirnya, aku menemukannya di sebuah toko alat tulis, sedang bermain komputer game dengan gembira.

Aku marah, membawanya pulang dan menghujaninya dengan pukulan-pukulan. Dia diam saja lalu mengatakan, "Aku minta maaf, Ayah."

Selang beberapa lama aku selidiki, ternyata ia absen dari acara "pertunjukan bakat" yang diadakan oleh sekolah, karena yang diundang adalah siswa dengan ibunya. Dan alasan ketidakhadirannya, karena ia tidak punya ibu.

Beberapa hari setelah kuhukum, anakku pulang ke rumah memberitahu bahwa di sekolahnya mulai diajarkan cara membaca dan menulis. Sejak saat itu, anakku lebih banyak mengurung diri di kamarnya untuk berlatih menulis. Aku yakin, jika istriku masih ada dan melihatnya, ia akan merasa bangga.

Waktu berlalu dengan begitu cepat, satu tahun telah lewat. Saat itu musim dingin. Ketika aku sedang menyelesaikan pekerjaan di hari-hari terakhir kerja, tiba-tiba kantor pos menelpon. Mereka menelpon dengan nada marah-marah. Mereka memberitahu bahwa anakku telah mengirim beberapa surat tanpa alamat.

Walaupun saya sudah berjanji untuk tidak pernah memukul anakku lagi, tetapi aku tidak bisa menahan diri untuk tidak memukulnya, karena aku merasa bahwa anak ini benar-benar keterlaluan. Namun sekali lagi, seperti sebelumnya, dia meminta maaf: "Maaf, Ayah." Tidak ada tambahan satu kata pun untuk menjelaskan alasannya melakukan itu.

Setelah itu aku pergi ke kantor pos untuk mengambil surat-surat tanpa alamat tersebut lalu pulang. Sesampainya di rumah, dengan marah aku mendorong anakku ke sudut kursi dan menanyakan alasannya melakukan hal itu. Di tengah isak tangisnya anakku menjawab: "Surat-surat itu untuk Ibu."

Tiba-tiba mataku berkaca-kaca. Namun aku mencoba mengendalikan emosi dan terus menanyainya: "Tapi kenapa kamu memposkan begitu banyak pada waktu yang sama?"

Anakku menjawab: "Aku telah menulis surat buat Ibu dalam waktu yang lama. Namun setiap kali aku mau menjangkau kotak pos itu, terlalu tinggi bagiku, sehingga aku tidak dapat maemasukkan surat-suratku. Baru-baru ini, ketika aku kembali ke kotak pos, aku bisa mencapai kotak itu dan aku mengirimkannya sekaligus."

Setelah mendengar penjelasannya, aku kehilangan kata-kata. Aku bingung, tidak tahu apa yang harus aku lakukan, dan apa yang harus aku katakan.

Aku bilang pada anakku, "Nak, Ibu sudah berada di surga. Jadi untuk selanjutnya, jika kamu hendak menuliskan sesuatu untuk Ibu, cukup dengan membakar surat tersebut maka surat akan sampai kepada Ibu." Setelah mendengar hal ini, anakku jadi lebih tenang dan segera setelah itu, ia bisa tidur dengan nyenyak.

Aku berjanji akan membakar surat-surat itu atas namanya. Jadi aku membawa surat-surat tersebut ke luar. Namun aku jadi penasaran dengan isi surat tersebut. Kemudian, aku membaca surat-surat itu. Salah satu dari isi surat itu membuat hatiku hancur.

Ibuku sayang,

Aku sangat merindukanmu. Hari ini, ada sebuah acara 'Pertunjukan Bakat' di sekolah, dan mengundang semua ibu untuk hadir di pertunjukan tersebut. Namun Ibu tidak ada, jadi aku tidak ingin menghadirinya juga. Aku tidak memberitahu Ayah tentang hal ini, karena aku takut Ayah akan mulai menangis dan merindukanmu lagi.

Saat itu untuk menyembunyikan kesedihan, aku duduk di depan komputer dan mulai bermain game di salah satu toko. Ayah keliling-keliling mencariku. Setelah menemukanku, Ayah marah dan aku hanya bisa diam. Ayah memukulku, tetapi aku tidak menceritakan alasan yang sebenarnya.

Ibu, setiap hari aku melihat Ayah merindukanmu. Setiap kali dia teringat padamu, ia begitu sedih dan sering bersembunyi dan menangis di kamarnya. Aku pikir kami amat sangat merindukanmu. Terlalu berat untuk kami, aku rasa. Tapi Bu, aku mulai melupakan wajahmu. Bisakah Ibu muncul dalam mimpiku, sehingga aku dapat melihat wajahmu dan mengingatmu? Temanku bilang, "Jika kau tertidur dengan foto orang yang kamu rindukan, maka kamu akan melihat orang tersebut dalam mimpimu." Tapi Bu, mengapa engkau tak pernah muncul?


Setelah membaca surat itu, tangisku tidak bisa berhenti, karena aku tidak pernah bisa menggantikan peran sebagai ibu, semenjak ditinggalkan oleh istriku.

Hargailah keberadaan kekasihmu. Kasihilah dan cintailah dia sepanjang hidupmu dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Karena saat engkau kehilangan dia, tidak ada emas permata, intan berlian atau apa pun yang bisa menggantikan posisinya.

Sumber : http://www.ceritamu.com/cerita/kisah-nyata-tak-ada-yang-bisa-menggantikan-dirimu

Perjalanan Panjang Seorang Wanita Mualaf Rusia



Ia seorang gadis Rusia, berasal dari keluarga yang taat beragama. Ia seorang penganut kristen ortodox yang sangat fanatik.

Seorang pedagang Rusia menawarinya untuk pergi bersama dengan sekelompok gadis, ke negara teluk untuk membeli alat-alat elektronik yang kemudian akan dijual di Rusia. Demikianlah awal kesepakatan antara pedagang dengan gadis-gadis tersebut.

Ketika mereka telah sampai di negara teluk, saudagar itu mulai menampakkan taringnya dan menujukkan niat jahatnya. Ia menawarkan kepada gadis-gadis tersebut profesi tercela. Ia mulai merayu mereka dengan harta yang melimpah dan wawasan yang luas. Akhirnya, sebagian besar dari gadis-gadis itu terpedaya dan menerima idenya, kecuali wanita yang satu ini. Ia sangat fanatik dengan agama Kristennya, sehingga ia menolak.

Laki-laki itu menertawakannya seraya berkata, "Engkau di negeri ini tersia-sia. Engkau tidak memiliki apapun, selain pakaian yang engkau pakai dan aku tidak akan memberikan apapun kepadamu." Saudagar itu mulai menekannya.

Ia tempatkan wanita itu di sebuah flat (kamar) bersama gadis-gadis yang lain. Ia pun menyembunyikan paspor mereka. Gadis-gadis lain tidak mampu mempertahankan prinsipnya, sehingga mereka larut bersama arus. Sementara ia tetap teguh menjaga kesuciannya.

Setiap hari ia selalu mendesak saudagar itu untuk menyerahkan paspornya atau memulangkan dirinya ke negeri asalnya. Namun laki-laki itu menolak. Pada suatu hari, ia berusaha untuk mencari paspor itu di flat. Setelah susah payah mencarinya, akhirnya ia berhasil menemukannya. Langsung saja ia ambil paspor tersebut dan segera kabur dari flat itu.

Ia keluar menuju ke jalan raya, sementara ia tidak punya apa-apa selain pakaian yang dikenakannya. Ia kebingungan. Ia adalah orang asing yang tidak tahu ke mana harus pergi, tak ada keluarga, relasi/kenalan, harta, makanan, dan tak tempat tinggal.

Wanita yang lemah itu benar-benar kebingungan, menoleh ke kanan dan ke kiri. Tiba-tiba ia melihat seorang pemuda yang sedang berjalan bersama tiga orang wanita. Ia merasa tentram dengan penampilan mereka, lalu ia menghampirinya dan mulai berbicara dengan bahasa Rusia.

Pemuda itu minta maaf, karena ia tidak memahami bahasa Rusia. Wanita itu berkata, "Apakah kalian bisa berbicara bahasa Inggris." Mereka menjawab, "Ya, bisa." Wanita itu menangis karena gembira, lalu berkata, "Aku seorang wanita dari Rusia. Kisahku begini (ia menuturkan kisahnya). Aku tidak punya harta dan tempat tinggal. Aku ingin pulang ke negeriku. Aku ingin agar kalian mau menampungku dua atau tiga hari, agar aku dapat mengatur urusanku bersama keluargaku dan saudara-saudaraku di negeriku."

Pemuda yang bernama Khalid itu merenungkan kata-kata wanita itu. Ia berpikir, boleh jadi wanita ini menipu. Sementara wanita itu melihat kepadanya dan menangis. Lalu Khalid bermusyawarah dengan ibu dan kedua saudara perempuannya.

Pada akhirnya mereka sepakat membawa wanita itu ke rumah. Wanita itu mulai menghubungi keluarganya di Rusia. Namun tidak ada jawaban. Jaringan telepon terputus di negeri itu. Padahal, ia sudah mengulang-ngulang menelepon setiap jam.

Keluarga itu tahu bahwa wanita itu seorang Kristen. Mereka berusaha untuk berlemah lembut dan santun kepadanya. Wanita itu menyukai keluarga yang menampungnya. Mereka pun mengajaknya untuk memeluk Islam. Namun ia menolak dan tidak ingin berpindah agama. Bahkan, ia tidak bersedia walau sekadar berdiskusi tentang masalah agama. Karena ia dari keluarga ortodox yang sangat fanatik membenci Islam dan kaum muslimin.

Khalid pergi ke Pusat Islam dan Dakwah (Islamic Center) lalu membawakan untuknya beberapa buku tentang Islam dalam bahasa Rusia. Wanita itu membacanya dengan seksama. Setelah membaca buku-buku tersebut, ia mulai bisa memahami tentang Islam. Pada akhirnya ia terkesan dan kagum dengan agama yang baru ia kenal ini.

Hari-hari terus berlalu sementara mereka terus berusaha untuk meyakinkannya, hingga akhirnya dia masuk Islam. Semakin hari keislamannya semakin baik. Ia mulai menaruh perhatian terhadap ajaran-ajaran Dien dan semangat untuk bergaul dengan wanita-wanita yang salehah. Setelah memeluk Islam, ia takut untuk kembali ke negerinya, karena khawatir akan disuruh kembali ke agama Kristen.

Karena ia telah menjadi muslimah, maka Khalid pun menikahinya. Ternyata ia lebih teguh dalam memegang Dien daripada kebanyakan muslimah lain. Pada suatu hari ia pergi bersama suaminya ke pasar. Di sana ia melihat seorang wanita bercadar. Ini adalah untuk pertama kalinya ia melihat seorang wanita berjilbab yang menutupi wajahnya (bercadar). Seorang wanita berjilbab dengan sempurna.

Ia merasa heran dengan bentuk pakaian tersebut. Ia berkata kepada suaminya, "Khalid, kenapa wanita itu berpakaian seperti itu? Mungkin wanita itu tertimpa penyakit yang membuat rusak wajahnya, sehingga ia menutupinya?"

Khalid menjawab, "Tidak, wanita itu berhijab dengan hijab yang diridhoi oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk hamba-hamba-Nya dan yang diperintahkan oleh Rasul-Nya."

Ia terdiam sebentar kemudian berkata, "Ya, benar, ini adalah hijab yang islami, yang dikehendaki oleh Allah untuk kita."

Khalid berkata, "Dari mana engkau tahu?" Ia menjawab, "Aku sekarang merasakan. Jika aku masuk ke pertokoan, mata para pemilik toko itu tidak lepas dari wajahku. Seakan-akan mereka mau menelan wajahku sepotong-sepotong. Kalau begitu wajahku ini harus ditutup. Tidak boleh ada yang melihatnya, selain suamiku saja. Kalau begitu aku tidak akan keluar dari pasar ini, kecuali dengan hijab seperti itu. Di mana kita bisa membelinya?"

Khalid berkata, "Tetaplah terus dengan hijabmu ini, seperti ibu dan saudara-saudara perempuanku."

Ia menjawab, "Tidak, aku ingin hijab seperti yang diinginkan Allah."

Hari-hari terus berlalu sementara tidak ada yang bertambah kecuali keimanannya. Orang-orang yang ada di sekelilingnya menyukainya. Hati dan perasaan Khalid pun terkuasai olehnya.

Pada suatu hari ia melihat paspornya, ternyata hampir habis masa berlakunya dan harus segera diperpanjang. Hal yang paling sulit adalah paspor itu harus diperpanjang di kota tempat dulu ia tinggal. Jadi, ia harus pergi ke Rusia. Jika tidak, maka ia akan dianggap pendatang gelap.

Khalid memutuskan untuk pergi bersamanya, karena wanita itu tidak mau bepergian tanpa disertai mahram. Mereka berdua naik pesawat jawatan penerbangan Rusia (Russian Air Lines) sementara wanita itu tetap dengan hijabnya yang sempurna. Ia duduk di samping suaminya dengan mantap dan penuh kewibawaan. Khalid berkata kepadanya, “Aku khawatir kita menemui kesulitan-kesulitan karena hijabmu ini.” Ia menjawab, “Subhanallah, engkau ingin agar aku mentaati orang-orang kafir tersebut dan mendurhakai Allah? Tidak, demi Allah, terserah mereka mau ngomong apa.”

Orang-orang mulai memandanginya. Para pramugari mulai membagi-bagikan makanan dan khamr (bir) kepada para penumpang. Tak lama kemudian, khamr mulai beraksi di kepala mereka. Kata-kata kasar mulai bermunculan dari orang-orang di sekelilingnya, yang diarahkan kepadanya. Ada yang membuat lelucon (humor), ada yang tertawa, ada juga yang mengolok-olok.

Mereka berdiri di samping wanita itu dan mengomentarinya. Sementara Khalid melihat ke arah mereka tanpa memahami ucapan mereka sedikit pun. Ada pun wanita itu tersenyum dan tertawa, kemudian menerjemahkan omongan mereka kepadanya.

Sang suami marah, tetapi wanita itu berkata, “Jangan, jangan engkau bersedih, jangan merasa sempit dada. Ini perkara kecil dibandingkan ujian dan cobaan iman yang dialami oleh para sahabat Nabi, baik yang laki-laki maupun perempuan.” Wanita itu bersabar, demikian juga sang suami, hingga pesawat itu mendarat.

Khalid berkata, “Ketika kami turun di bandara, aku menyangka bahwa kami akan pergi ke rumah keluarganya dan tinggal di sana. Setelah itu akan menyelesaikan pengurusan perpanjangan paspor kemudian pulang. Namun pandangan istriku ternyata cukup jauh."

Istriku berkata, “Keluargaku masih menganut kristen ortodox semua. Mereka fanatik dengan agamanya. Oleh karena itu, aku tidak ingin ke sana sekarang. Namun kita akan menyewa sebuah kamar di satu tempat dan tinggal di sana lalu mengurus perpanjangan paspor. Nanti sebelum pulang, kita berkunjung ke rumah keluargaku.”

Khalid pun menyetujui usulan yang bagus itu. Kami pun menyewa sebuah kamar dan bermalam di situ. Keesokan harinya kami pergi ke kantor bagian pengurusan paspor. Kami menemui petugas dan ia meminta agar kami menyerahkan paspor yang lama berikut foto terbarunya. Istriku menyerahkan fotonya yang hitam putih, yang tak terlihat dari tubuhnya, kecuali bagian wajahnya saja.

Petugas itu berkata, “Foto ini menyalahi aturan. Kami minta foto yang berwarna dan terlihat wajah, rambut dan leher dengan sempurna!!” Istriku menolak menyerahkan, selain foto itu. Kami pun pergi ke petugas kedua lalu petugas yang lainnya lagi, akan tetapi semua minta foto yang tidak berjilbab.

Istriku berkata, “Tidak mungkin aku berikan kepada mereka foto yang tabarruj (terbuka auratnya) selama-lamanya.”

Para petugas itu pun menolak melayani permintaan kami. Kemudian kami menuju ke pimpinan utama mereka yang perempuan. Istriku berusaha meyakinkan pimpinan itu agar mau menerima foto tersebut. Namun ditolak. Istriku mulai mendesak seraya berkata, “Apakah tidak engkau lihat rupaku yang sebenarnya, lalu engkau bandingkan dengan yang ada di foto itu? Yang penting wajah terlihat. Adapun rambut, bisa saja berubah. Bukankah foto ini sudah cukup?!”

Pimpinan itu tetap bersikeras bahwa aturan tidak membolehkan foto seperti itu. Maka istriku berkata, “Saya tidak akan menyerahkan, selain foto-foto ini. Lalu apa jalan keluarnya?”

Sang pimpinan berkata, “Tidak ada yang bisa menyelesaikan masalah ini, kecuali direktur utama di kantor pusat pengurusan paspor yang berada di Moskow.”

Kami pun keluar dari kantor tersebut. Ia menoleh kepadaku seraya berkata, “Wahai Khalid, kita akan pergi ke Moskow.”

Ketika itu aku berkata kepadanya, “Sudahlah, serahkan saja foto yang mereka inginkan itu. Bukankah Allah tidak akan membebani seseorang, kecuali sesuai dengan kemampuannya? Maka bertakwalah kepada Allah semampumu. Dan ini sesuatu yang darurat. Paspor itu tidak akan dilihat, kecuali oleh segelintir orang. Itu pun untuk sesuatu yang darurat. Setelah itu engkau sembunyikan di rumahmu sampai habis masa berlakunya. Lepaskan dirimu dari kesulitan-kesulitan ini, kita tidak perlu pergi ke Moskow.”

Ia menjawab, “Tidak, tidak mungkin aku tampil dengan bentuk yang tabarruj (membuka aurat) setelah aku mengenal agama Allah ini.”

Ia terus mendesakku, akhirnya kami pun pergi ke Moskow. Kami pun menyewa sebuah kamar dan tinggal di situ. Keesokan harinya kami pergi ke kantor pusat pengurusan paspor. Kami menemui petugas pertama, kedua dan ketiga. Pada akhirnya kami terpaksa menghadap direktur utama.

Kami pun menemuinya. Ternyata ia termasuk orang yang paling buruk akhlaknya. Ketika melihat paspor, ia membolak-balik foto-foto hitam putih itu, kemudian mengarahkan pandangannya ke arah istriku. Ia pun berkata, “Siapa yang bisa membuktikan kepadaku bahwa engkau adalah pemilik foto-foto ini?” Ia ingin agar istriku membuka wajahnya.

Istriku berkata kepadanya, “Katakan saja kepada seorang pegawai wanita yang ada di sini atau sekretaris wanita untuk menemuiku. Aku bersedia membuka wajahku untuknya, sehingga ia dapat mencocokkan foto itu dengan wajahku. Adapun engkau, aku tidak akan membuka wajahku untukmu.”

Orang itu marah lalu mengambil paspor lama dan foto-fotonya berikut berkas-berkas lainnya. Semua berkas itu dijadikan satu dan dilemparkan ke laci meja pribadinya. Ia berkata kepada istriku, “Engkau tidak akan bisa memperoleh paspor yang lama ataupun yang baru, kecuali jika engkau menyerahkan kepadaku foto-foto yang benar-benar cocok dan kami bisa mencocokkannya denganmu.”

Istriku mulai berbicara kepadanya dan berusaha untuk meyakinkannya. Kedua orang itu berbicara dengan bahasa Rusia, sementara aku memandangi keduanya tanpa mengerti sedikit pun pembicaraan mereka.

Aku jengkerl, tetapi aku tak dapat berbuat apa-apa. Sementara orang itu mengulang-ngulang, “Engkau harus membawa foto-foto yang sesuai dengan syarat-syarat kami.”

Istriku tetap berusaha untuk meyakinkannya, tetapi tidak ada hasilnya! Akhirnya ia diam dan berdiri. Aku menoleh kepadanya dan mengulangi perkataanku sebelumnya, “Wahai istriku yang terhormat, Allah tidak akan memberikan beban kepada seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya. Saat ini kita dalam keadaan darurat. Sampai kapan kita berkeliling di kantor-kantor pengurusan paspor?”

Istriku menjawab, “Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia adakan baginya jalan keluar dan Dia karuniakan kepadanya rezeki dari arah yang tidak diduga-duga.”

Perdebatan antara aku dengannya semakin sengit. Hal itu membuat direktur pengurusan paspor itu marah, sehingga kami diusir dari kantornya. Kami keluar sambil menyeret langkah-langkah kami.

Perasaanku berkecamuk, antara kasihan dan marah kepada istriku. Kami pun pulang, kemudian membicarakan masalah ini di kamar kami.

Aku berusaha untuk meyakinkannya, akan tetapi ia tetap bersungguh-sungguh meyakinkanku, sampai larut malam. Setelah lelah berdebat, kami pun shalat Isya. Pikiranku risau dengan musibah ini. Kemudian kami makan malam seadanya, lalu aku rebahkan badanku dan kepalaku untuk tidur.

"Bagaimana engkau bisa tidur?" Ketika ia melihatku meletakkan kepalaku, wajahnya berubah lalu menoleh seraya berkata, “Khalid, engkau akan tidur?!” Aku menjawab, “Ya, apakah engkau tidak merasa capek?!” Ia berkata, “Subhanallah, dalam kondisi yang sulit ini engkau bisa tidur?! Kita sedang melewati saat-saat yang kita harus lari kepada Allah. Bangun dan mohonlah kepada Allah dengan sungguh-sungguh, karena ini adalah waktu untuk memohon.”

Aku pun bangun dan shalat, sesuai dengan yang Allah kehendaki untukku. Kemudian aku tidur. Ada pun istriku tetap berdiri untuk shalat dan shalat. Setiap kali aku terbangun dan melihatnya, aku dapati dia masih dalam keadaan rukuk atau sujud atau berdiri atau berdoa atau menangis, sampai terbit fajar. Kemudian ia membangunkanku seraya berkata, “Telah masuk waktu fajar, mari kita shalat berjamaah.”

Aku pun bangun, berwudhu, kemudian shalat berjamaah. Kemudian istriku tidur sejenak. Setelah matahari terbit, ia terbangun seraya berkata, “Mari kita pergi ke kantor pengurusan paspor!!” Aku berkata, “Kita akan pergi ke kantor pengurusan paspor lagi?! Dengan argumen apa?! Mana foto-fotonya, kita masih belum memiliki foto-foto itu!!” Ia berkata, “Marilah kita pergi dan berusaha, jangan putus asa dari rahmat Allah.”

Kami pun pergi. Demi Allah, ketika kaki-kaki kami menginjak lantai ruang pertama kantor pengurusan paspor tersebut dan mereka melihat istriku yang sudah mereka ketahui sebelumnya dengan hijabnya itu, tiba-tiba salah seorang petugas memanggil, ”Engkau Fulanah?”

Istriku menjawab, “Ya, benar!” Petugas itu berkata, “Ambillah paspormu.” Dan ternyata paspor itu telah beres, lengkap dengan foto-fotonya yang berjilbab. Aku merasa gembira, lalu ia menoleh kepadaku seraya berkata, “Bukankah telah aku katakan kepadamu, barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia adakan baginya jalan keluar.”

Tatkala kami ingin keluar, petugas itu berkata, “Anda harus kembali ke kota yang kalian datangi pertama kali, agar paspor Anda distempel di sana.” Kami pun kembali ke kota yang pertama dan aku berkata dalam hatiku, "Ini adalah kesempatan untuk mengunjungi keluarganya sebelum kami meninggalkan Rusia. Akhirnya, kami sampai di kota tempat kelahiran istriku. Kami menyewa sebuah kamar kemudian kami menstempel paspor tersebut.

Kami pergi mengunjungi keluarga istriku. Ternyata rumah itu tampak kuno dan sederhana. Nampak jelas tanda-tanda kemiskinan di sana. Kami mengetuk pintu rumah tersebut dan yang membukakan pintu adalah kakak laki-lakinya yang tertua. Ia seorang pemuda yang kekar otot-ototnya.

Istriku gembira dapat bertemu dengan kakaknya, ia membuka wajahnya dan tersenyum serta mengucapkan selamat berjumpa. Ada pun sang kakak, ketika pertama kali melihat adiknya, wajahnya terlihat gembira dengan kepulangannya yang selamat, tapi bercampur heran karena pakaiannya.

Istriku masuk sambil tersenyum dan memeluk saudaranya. Aku pun ikut masuk di belakangnya dan duduk di ruang tamu. Aku duduk seorang diri. Ada pun istriku, masuk ke dalam rumah.

Aku mendengar mereka berbicara dengan bahasa Rusia. Aku tidak paham sama sekali, tetapi aku perhatikan nada suara mereka semakin meninggi dan keras!! Logatnya pun berubah!! Teriakan mulai meninggi!! Tiba-tiba mereka semua meneriaki istriku, sementara ia berusaha membela diri dan menyanggah perkataan mereka. Aku merasa ada hal yang tidak baik dalam urusan ini, tetapi aku tidak bisa memastikannya karena aku tidak paham sedikit pun pembicaraan mereka.

Tiba-tiba suara mereka semakin mendekat ke ruangan tamu, di mana aku berada. Kemudian keluarlah tiga orang pemuda dipimpin oleh seorang yang agak tua menemuiku. Pada mulanya aku menduga bahwa mereka akan menyambut kedatangan suami dari anak mereka. Namun ternyata mereka menyerangku seperti binatang buas. Tiba-tiba mereka memukul dan menamparku. Aku berusaha untuk membela diri dari serangan mereka. Aku berteriak dan minta tolong, hingga habis kekuatanku. Aku merasa di rumah inilah akhir hidupku.

Mereka semakin menghujaniku dengan pukulan-pukulan. Sementara itu aku berusaha menoleh ke sekitarku. Aku berusaha mengingat-ingat dari pintu mana aku tadi masuk supaya aku bisa keluar. Ketika aku melihat pintu, aku segera bangkit membuka pintu dan kabur. Sementara mereka mengejar di belakangku. Aku masuk di tengah kerumunan orang, hingga dapat lolos dari kejaran mereka.

Kemudian aku menuju ke kamar sewaku, yang kebetulan tidak jauh dari rumah itu. Aku membersihkan darah dari wajah dan mulutku. Aku melihat diriku di cermin, ternyata pukulan dan tamparan-tamparan itu meninggalkan bekas pada kening, pipi dan hidungku. Darah mengalir dari mulutku, pakaianku robek. Aku memuji Allah, yang telah menyelamatkanku dari binatang-binatang buas tersebut. Namun aku tersadar dan berkata dalam hati, “Aku telah selamat, tetapi bagaimana dengan istriku?!” Wajahnya terbayang-bayang di hadapanku. Apakah ia juga menerima pukulan dan tamparan sepertiku? Laki-laki saja hampir-hampir tak sanggup menghadapinya. Sementara ia adalah seorang wanita, apakah ia mampu menanggungnya?! Aku khawatir wanita yang lemah itu roboh. Inikah saatnya perpisahan??

Setan mulai bekerja dan membisiki, “Ia akan murtad dari agamanya dan kembali menjadi Kristen, lalu engkau akan kembali ke negerimu seorang diri.” Aku jadi bingung, apa yang harus aku perbuat? Di negeri ini, ke mana aku harus pergi, apa yang mesti aku lakukan? Nyawa di negeri ini murah. Engkau bisa menyewa seseorang untuk membunuh orang lain, hanya dengan sepuluh dollar!! Uuuh, bagaimana kalau keluarga istriku menyiksanya lalu ia menunjukkan kepada mereka tempatku, kemudian mereka mengutus seseorang untuk membunuhku di kegelapan malam?

Aku mengunci kamar rapat-rapat. Namun aku masih merasa takut dan cemas sampai pagi. Ketika matahari telah terbit, aku pun berganti pakaian lalu pergi untuk mencari-cari informasi. Aku mengawasi rumah mereka dari kejauhan, dan memantau apa yang terjadi. Namun pintu rumah itu tertutup. Aku terus menunggu. Tiba-tiba pintu terbuka dan keluarlah tiga orang pemuda dan seorang tua. Ketiga pemuda itulah yang telah memukulku. Dari penampilannya, nampaknya mereka akan pergi bekerja. Pintu pun tertutup dan terkunci kembali. Aku tetap mengawasi dan mengintai. Aku berharap dapat melihat wajah istriku, tetapi tak berhasil.

Aku terus mengawasi rumah itu sampai berjam-jam. Hingga para laki-laki yang pergi itu kembali dari pekerjaan mereka dan memasuki rumah mereka. Aku merasa lelah, lalu kembali ke kamar sewaku.

Pada hari kedua, aku pergi mengawasi rumah itu lagi. Namun aku tidak melihat istriku. Pada hari ketiga pun sama. Aku sudah putus asa akan kehidupannya, aku menduga ia sudah mati karena kerasnya siksaan atau dibunuh. Namun seandainya ia telah mati tentu paling tidak akan terlihat kesibukan di rumah itu. Akan ada orang yang datang untuk melayat atau menjenguk. Akhirnya, aku meyakinkan diriku bahwa ia masih hidup dan kesempatan bertemu kembali masih ada.

Pada hari yang keempat, aku tidak sabar untuk duduk di kamar sewaku. Aku pun pergi untuk mengawasi rumah mereka dari kejauhan. Ketika para pemuda itu pergi bersama ayah mereka ke tempat kerjanya seperti biasa, sementara aku tetap mengawasi dan berharap, tiba-tiba pintu terbuka.

Ternyata wajah istriku terlihat dari balik pintu. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri. Aku melihat ke wajahnya, ternyata penuh dengan lingkaran-lingkaran merah dan bekas-bekas pukulan yang membiru, karena banyaknya pukulan dan tamparan. Pakaiannya bersimbah darah. Aku merasa cemas dan iba, ketika melihatnya. Aku segera menghampirinya. Ketika semakin dekat, aku dapat melihatnya dengan jelas. Ternyata darah mengalir dari luka-luka di wajahnya. Kedua tangan dan kakinya pun mengalirkan darah. Pakaiannya robek-robek, tidak tersisa kecuali secarik kain sederhana yang menutupinya. Kedua kakinya terikat dengan belenggu, sedangkan kedua tangannya pun diikat ke belakang dengan rantai.

Tatkala aku melihatnya seperti itu aku menangis. Aku tidak dapat menguasai diriku, aku panggil ia dari kejauhan. Ketika melihatku. istriku tersenyum. Ia berkata kepadaku sambil menahan air mata dan merintih karena pedihnya siksaan, “Dengarkan wahai Khalid, jangan engkau mencemaskan diriku, aku tetap teguh di atas perjanjian. Demi Allah, yang tidak ada Tuhan selain Dia, apa yang aku temui sekarang ini tidak sebanding seujung rambut pun dengan apa yang ditemui oleh para sahabat dan tabi’in, apalagi para Nabi dan Rasul. Aku mengharap agar engkau tidak ikut campur dalam urusan antara aku dan keluargaku. Pergilah cepat-cepat, serta tunggulah di kamar sewa sampai aku datang, insya Allah. Perbanyaklah doa, qiyamullail dan shalat.”

Aku pun pergi dari sisinya, sementara aku merasa sangat iba dan sedih atas dirinya. Aku tinggal di kamarku sehari penuh menunggunya, aku mengharapkan kedatangannya. Hari berikutnya pun lewat. Sampai malam telah larut, tiba-tiba pintu kamarku diketuk! Aku terkejut. Siapakah gerangan yang di balik pintu?! Siapa yang mengetuk itu? Rasa takut, mulai muncul, siapalah yang datang pada tengah malam? Boleh jadi keluarganya telah mengetahui tempatku, atau boleh jadi istriku telah mengaku lalu keluarganya datang untuk membunuhku. Aku diserang ketakutan seperti mau mati. Aku bertanya dengan mengulang-ulang, “Siapa di luar?”

Tiba-tiba terdengar suara istriku berkata dengan penuh kelembutan, “Bukalah pintu, aku Fulanah.” Kemudian aku nyalakan lampu kamar dan aku buka pintu. Ia masuk dalam keadaan gemetar dan kondisi yang mengenaskan, sementara luka-luka disekujur tubuhnya. Ia berkata, “Cepat kita pergi sekarang!” Aku berkata, “Sementara keadaanmu seperti ini?!” Ia menjawab, “Ya, cepatlah.”

Aku mulai membereskan pakaianku sementara ia mengambil kopernya. Ia mengganti pakaiannya dan mengeluarkan hijab dan ‘aba’ah (mantel luar) nya lalu dipakainya. Kami segera mengambil semua barang-barang kami lalu turun dan naik taksi. Wanita yang lemah itu menghempaskan tubuhnya yang lapar dan penuh luka itu ke kursi mobil.

Begitu aku naik taksi, aku langsung berkata kepada sopir dengan bahasa Rusia, “Ke bandara pak!” Aku memang sudah mengetahui beberapa kata dalam bahasa Rusia. Namun istriku berkata, “Tidak, kita tidak akan pergi ke bandara, tetapi kita akan pergi ke suatu desa.” Aku bertanya, “Kenapa? Bukankah kita akan kabur?!” Ia menjawab, “Benar, tetapi jika keluargaku tahu akan kepergianku, mereka pasti akan segera mencari kita di bandara. Kita pergi saja ke suatu desa. Jika kita telah sampai di desa tersebut kita akan turun, lalu naik mobil lain ke desa yang lainnya. Kemudian menuju ke desa lainnya. Kemudian ke sebuah kota lain, yang di situ ada bandara internasional.”

Ketika kami telah sampai di bandara internasional, kami segera memesan tiket untuk pulang ke negeri kam. Namun pemesanan terlambat, lalu kami menyewa sebuah kamar dan tinggal di situ.

Tatkala kami sudah merasa tenang tinggal di kamar, istriku melepas aba’ah (mantel luar) nya. Aku melihatnya. Ya Allah, ternyata tidak ada satu tempat pun yang selamat dari darah!! Kulitnya tercabik, darah-darah yang membeku, rambut yang terpotong-potong, dan bibir yang membiru.

Aku bertanya kepadanya, “Apa yang telah terjadi?.” Ia menjawab, “Ketika kita telah masuk ke rumah, aku duduk bersama keluargaku, lalu mereka berkata kepadaku, ‘Pakaian apa ini?!! Aku menjawab, ‘Ini adalah pakaian Islam.’ Mereka berkata, ‘Dan siapakah laki-laki itu?!’ Aku menjawab, ‘Dia suamiku, aku telah masuk Islam dan menikah dengan laki-laki tersebut.’ Mereka berkata, ‘Tidak mungkin ini terjadi!’ Kemudian aku berkata, 'Dengarkanlah dulu ceritaku.'"

Lalu aku ceritakan kepada mereka kisah laki-laki Rusia yang ingin menarikku ke lembah prostitusi, bagaimana aku bisa lari darinya, kemudian pertemuanku denganmu. Mereka berkata, “Seandainya engkau menempuh jalan prostitusi tentu lebih kami sukai daripada engkau datang kepada kami sebagai muslimah.” Mereka juga berkata kepadaku, “Sekali-kali engkau tidak akan bisa keluar dari rumah ini, kecuali sebagai wanita Kristen orthodox atau mayat yang kaku!!”

Sejak saat itu mereka menyiksa dan memukuliku, kemudian mereka menuju kepadamu dan memukulimu. Aku mendengar mereka memukulimu dan engkau berteriak minta tolong, sedangkan aku saat itu dalam keadaan terikat. Ketika engkau melarikan diri, saudara-saudaraku kembali kepadaku dan menumpahkan cacian serta cercaannya kepadaku. Kemudian mereka pergi dan membeli rantai belenggu, lalu mereka mengikatku.

Mereka mulai mencambukku. Aku merasakan cambukan yang meninggalkan bekas. Mereka mencambukku dengan cambuk-cambuk yang aneh dan asing!! Setiap hari pemukulan dimulai ba’da Ashar sampai tiba waktu tidur. Ada pun di pagi hari, ayah dan saudara-saudaraku pergi ke tempat kerja, sedangkan ibuku di rumah. Nah, inilah waktu istirahatku satu-satunya.

Tidak ada di sampingku selain adik perempuan yang umurnya 15 tahun. Ia mendatangiku dan menertawakan keadaanku. Percayakah engkau bahwa hingga tidur pun aku dalam keadaan pingsan? Mereka mencambukku sampai aku pingsan dan tertidur. Mereka menuntut dariku agar murtad, tetapi aku menolaknya dan berusaha keras untuk bersabar.

Setelah itu adik perempuanku mulai bertanya kepadaku, “Kenapa engkau tinggalkan agamamu dan agama ibu, ayah serta kakek-kakekmu?” Aku berusaha untuk meyakinkannya. Aku menjelaskan kepadanya tentang ajaran Dien. Aku terangkan tentang tauhid. Ia pun merasa puas dan terkesan. Gambaran tentang Islam mulai jelas di hadapannya.

Tiba-tiba aku dikejutkan olehnya, ketika ia berkata, “Engkau di atas kebenaran. Inilah agama yang benar, inilah agama yang seharusnya aku anut juga!!” Kemudian ia berkata kepadaku, “Aku akan membantumu.” Aku menjawab, “Jika engkau memang ingin membantuku, maka bantulah aku untuk menemui suamiku.”

Adik perempuanku mulai melihat dari atas rumah, lalu ia melihatmu sedang berjalan. Ia segera berkata kepadaku, “Sesungguhnya aku melihat seorang laki-laki yang begini dan begitu cirinya.” Aku berkata, “Dialah suamiku, jika engkau melihatnya maka bukakanlah pintu untukku agar aku bisa berbicara kepadanya.”

Dan benar, ia pun membukakan pintu lalu aku keluar dan berbicara kepadamu. Namun aku tidak bisa keluar menghampirimu, karena aku dalam keadaan terikat dengan dua rantai belenggu, yang kuncinya dipegang oleh saudaraku. Sedangkan rantai yang ketiga diikatkan ke salah satu tiang rumah agar aku tidak bisa keluar. Kuncinya dipegang oleh adik perempuanku dan akan dibukanya bila aku hendak ke kamar mandi.

Ketika aku berbicara kepadamu waktu itu dan memintamu agar tetap tinggal sampai aku datang, keadaanku masih terikat dengan rantai belenggu. Lalu aku mulai meyakinkan adik perempuanku tentang Islam, maka ia pun masuk Islam dan ingin berkorban dengan pengorbanan yang lebih besar dari pengorbananku. Ia pun memutuskan untuk melepaskanku. Namun kunci-kunci rantai belenggu dipegang oleh saudaraku dan ia sangat menjaganya.

Lalu adik perempuanku menyiapkan alkohol yang kental dan berat untuk saudara-saudaraku. Lalu mereka pun meminumnya sampai mabuk berat dan tidak sadar sama sekali. Kemudian adikku mengambil kunci tersebut dari kantong saudaraku dan membuka rantai-rantai belenggu itu dariku. Lalu aku datang menemuimu pada kegelapan malam itu.

Aku bertanya kepada istriku, “Bagaimana adik perempuanmu? Apa yang akan terjadi dengannya?” Ia menjawab, “Tidak masalah, aku sudah meminta kepadanya agar merahasiakan ke-Islamannya sampai kita bisa memikirkan urusannya.”

Kami pun bisa tidur malam itu, dan keesokan harinya kami pulang ke negeri kami. Begitu kami sampai di negeri kami, aku langsung masukkan istriku ke rumah sakit. Ia tinggal di situ beberapa hari menjalani pengobatan karena bekas cambukan-cambukan dan penyiksaan. Sekarang ini kami berdoa untuk adik perempuannya agar Allah SWT meneguhkan hatinya di atas Dien-Nya.

Sumber : http://www.arrahmah.com/read/2012/04/05/192220amazing-story-perjalanan-panjang-seorang-wanita-mualaf-rusia.html

Ayah, Engkau Lebih Berharga dari Uang Itu



Seorang dai berkata, "Ada seorang laki-laki memiliki hutang. Pada suatu hari, datanglah kepadanya pemilik hutang, yang mengetuk pintunya. Selanjutnya salah seorang putranya membukakan pintu untuknya. Dengan tiba-tiba, orang itu merangsek masuk tanpa salam dan penghormatan. Lalu ia memegang kerah baju tuan rumah seraya berkata, "Bertakwalah kepada Allah, bayar hutang-hutangmu. Sungguh aku telah bersabar, lebih dari seharusnya, kesabaranku sekarang telah habis. Sekarang kamu lihat apa yang kulakukan terhadapmu?!

Pada saat itulah sang anak ikut campur. Air matanya mengalir melihat ayahandanya dalam kondisi terhina seperti itu. Dia berkata, "Berapa hutang yang harus di bayar ayahku?" Dia menjawab, "Tujuh puluh ribu real."

Sang anak berkata, "Lepaskan ayahku, tenanglah, semua akan beres." Lalu masuklah sang anak ke kamarnya, di mana dia telah mengumpulkan sejumlah uang yang bernilai 27 ribu real dari gajinya untuk hari pernikahan yang tengah ditunggunya. Namun, dia lebih mementingkan ayahanda dan hutangnya daripada membiarkan uang itu tersimpan di lemari pakaiannya.

Sang anak masuk ke ruangan lantas berkata kepada pemilik hutang, "Ini pembayaran hutang ayahku. Nilainya 27 ribu real. Nanti akan datang rezeki, akan kami lunasi sisanya, segera dalam waktu dekat, Inshaa Allah."

Di saat itulah, sang ayah menangis dan meminta si penagih hutang itu untuk mengembalikan uang itu kepada putranya, karena ia membutuhkannya. Dan, anaknya tidak punya dosa dalam hal ini.

Sang anak memaksa agar lelaki itu mengambil uangnya. Lalu melepas kepergian lelaki itu di pintu sambil meminta darinya agar tidak menagih ayahnya. Hendaknya dia meminta sisa hutang itu kepadanya secara pribadi.

Kemudian sang anak mendatangi ayahnya, mencium keningnya seraya berkata, "Ayah, kedudukan ayah lebih besar dari uang itu. Segala sesuatu akan diganti, jika Allah azza wa jalla memangjangkan usia kita, dan menganugerahi kita dengan kesehatan dan 'afiyah."

"Saya tidak tahan melihat kejadian tadi. Seandainya saya dibebani segala tanggungan yang wajib ayah bayar, pastilah saya akan membayarkannya. Saya tidak mau melihat air mata jatuh dari kedua mata ayah yang suci."

Sang ayah pun memeluk putranya, sembari sesenggukan karena tangisan haru, menciumnya seraya berkata, "Mudah-mudahan Allah meridhai dan memberikan taufik kepadamu wahai anakku, serta merealisasikan segala cita-citamu."

Pada hari berikutnya, saat sang anak sedang asyik melakukan pekerjaannya, seorang sahabatnya yang sudah lama tidak bertemu, mengunjunginya. Setelah mengucapkan salam dan bertanya tentang keadaannya, sahabatnya bertanya, "Akhi (saudaraku), kemarin, salah seorang manajer perusahaan memintaku untuk mencarikan seorang laki-laki muslim, terpercaya lagi memiliki akhlak mulia yang juga memiliki kemampuan menjalankan usaha. Aku tidak menemukan seorang pun yang kukenal dengan kriteria-kriteria itu, kecuali kamu. Maka apa pendapatmu jika kita pergi bersama untuk menemuinya sore ini?"

Maka berbinar-binarlah wajah sang anak dengan kebahagiaan, seraya berkata, "Mudah-mudahan ini adalah doa ayah, Allah azza wa jalla telah mengabulkannya." Dia pun banyak memuji Allah azza wa jalla.

Pada waktu pertemuan di sore harinya, tidaklah manajer tersebut melihat kecuali dia merasa tenang dan sangat percaya kepadanya, dan berkata, "Inilah laki-laki yang tengah kucari."

Lalu dia bertanya kepada sang anak, "Berapa gajimu?" Dia menjawab, "Mendekati 5 ribu real."

Manajer itu berkata, "Pergi besok pagi, sampaikan surat pengunduran dirimu. Gajimu 15 ribu real. Bonus 10% dari laba. Dua kali gaji untuk membeli rumah dan mobil, dan enam bulan gaji akan di bayarkan untuk memperbaiki keadaanmu."

Tidaklah pemuda itu mendengarnya, hingga dia menangis sambil berkata, "Bergembiralah, wahai Ayahku."

Sang manajer pun bertanya kepadanya tentang sebab tangisannya. Pemuda itu pun menceritakan apa yang telah terjadi dua hari sebelumnya. Manajer itu pun memerintahkan seseorang untuk melunasi hutang-hutang ayahnya.

Ia pun mulai berkerja di perusahaan baru itu. Laba usaha pada tahun pertama, tidak kurang dari setengah milyar real.

Berbakti kepada kedua orang tua adalah bagian dari ketaatan terbesar dan bentuk taqarrub kepada Allah azza wa jalla yang teragung. Dengan berbakti kepada keduanya, rahmat-rahmat akan diturunkan, segala kesukaran akan disingkapkan.

Allah azza wa jalla telah mengaitkan antara sikap berbakti kepada kedua orang tua dengan tauhid, Allah azza wa jalla berfirman yang artinya: "Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang dari keduanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah' dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia." [al-Israa':23]

Di dalam Shahihahin, dari hadits Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, dia berkata, "Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, "Amal mana yang paling dicintai oleh Allah?" Maka beliau menjawab, "Shalat pada waktunya." Kukatakan lagi, "Kemudian apa?" Beliau menjawab, "Berbakti kepada kedua orang tua." Kukatakan, "Kemudian apa?" Beliau menjawab, "Kemudian jihad di jalan Allah." [HR. al-Bukhari dan Muslim]

Dari Umar, dia berkata, "Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda yang artinya, "Akan datang atas kalian Uwais bin 'Amir bersama dengan penduduk Yaman dari Murad kemudian dari Qorn. Dulu dia kena penyakit sopak, kemudian sembuh darinya, kecuali selebar koin uang dirham. Dia punya seorang ibu yang dulu dia berbakti kepadanya. Seandainya dia bersumpah atas nama Allah, pastilah akan dipenuhi-Nya. Jika kamu mampu dia beristighfar untukmu, maka lakukanlah." [HR. Muslim]

Hiwah bin Syuraih adalah seorang imam dan ulama yang terkenal. Dia duduk pada halaqohnya untuk mengajar umat. Berbagai thalib (penuntut ilmu) datang kepadanya dari segenap tempat untuk mendengar darinya.

Suatu ketika ibunya berkata kepadanya, saat dia berada di tengah-tengah muridnya, "Berdirilah wahai Hiwah, beri makan ayam." Maka dia pun berdiri dan meninggalkan majelis ilmunya.

Ketahuilah wahai saudaraku yang tercinta, salahsatu di antara pintu-pintu surga adalah Babul Walid (Pintu berbakti kepada orang tua). Maka, janganlah kehilangan pintu tersebut. Bersungguh-sungguhlah dalam menaati kedua orang tuamu. Demi Allah, baktimu terhadap keduanya, termasuk di antara sebab-sebab kebahagiaanmu di dunia dan akhirat.

Aku memohon kepada Allah agar memberikan taufik kepadaku dan seluruh kaum Muslim untuk berbakti kepada kedua orang tua dan berbuat baik kepada keduanya. Wallahu a'lam.

Sumber : alqiyamah.wordpress.com

Memulung Demi Menghidupi Ayahnya yang Lumpuh



Seorang anak kecil di Dajiyuan, menghidupi ayahnya yang lumpuh dengan menjadi seorang pemulung. Karena ayahnya lumpuh bertahun-tahun, anak yang baru berumur 6 tahun ini terpaksa memikul tanggung jawab rumah tangga. Selain setiap hari selain mencuci muka, memijat dan memberi makan ayahnya, dia mengambil botol air mineral bekas bersama ibunya, untuk menambah pendapatan keluarga.

Sepulang sekolah, Tse Tse langsung sibuk menyiapkan seember air. Lantas dengan tangannya yang mungil ia memeras selembar handuk yang besar. Ukuran handuk yang terlalu besar untuk Tse Tse, membuatnya membutuhkan waktu 3 sampai 4 menit untuk mengeringkannya. Kemudian dengan handuk itu, dia menyeka wajah ayahnya. Dia melakukannya dengan sangat teliti. Setelah selesai, Tse Tse berjinjit mengelap punggung ayahnya. Setelah selesi, dengan puas dia tersenyum ke ayahnya.

Tse Tse tahun itu berumur 6 tahun, baru kelas 1 SD. Ia tinggal di jalan Baoan, desa Nantong. Papanya Xiong Chun, 5 tahun lalu tiba-tiba menderita otot menyusut, sehingga tubuhnya, mulai dari bawah leher lumpuh. Untuk mengobati penyakitnya, pihak keluarga telah menghabiskan semua tabungannya.

Sekarang, keluarga yang beranggotakan 3 orang ini hanya mengandalkan pendapatan ibunya, yang bekerja di pabrik. Dengan penghasilan kecil itulah mereka bertahan hidup.

Di sekolah Houde, anak yang seumur dengannya dengan ceria bergandeng tangan dengan orang tuanya sambil berjalan. Namun Tse Tse, malah harus sekuat tenaga ekstra mendorong ayahnya. Ketika mau menyeberang jalan, dia akan berhenti sejenak, melihat kendaraan yang lalu lalang. Setelah aman, dia baru menyeberang. Setiap meleati tempat yang tidak rata, Tse Tse harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk menaikkan roda depan, menarik kursi roda itu dari belakang. Wajahnya yang mungil sampai terlihat kemerahan. Jarak dari sekolah sampai rumah sekitar 1.500 meter. Dia harus menempuhnya selama 20 menit.

Satu keluarga yang terdiri dari 3 orang itu menempati rumah seluas 8 m2. Rumah Tse Tse adalah sebuah rumah dengan kamar kecil seukuran 8 m2. Hanya seng yang menutupi atap yang menghalangi cahaya masuk ke kamar. Di atap rumah itu tergantung sebuah lampu kecil. Rumah itu dipenuhi debu. Hal yang paling mencolok adalah penghargaan untuk Tse Tse yang tergantung di dinding.

Sebuah ranjang bertingkat sudah memenuhi seluruh kamar. Di bagian atasnya, penuh dengan barang pecah belah, hingga hanya tersisa sedikit ruang kecil. Xiong Chun berkata, itu adalah ranjang Tse Tse. Sebuah meja lipat yang tergantung di dinding menjadi meja belajar Tse Tse, yang juga berfungsi sebagai meja makan keluarga.

Di samping pintu, yang luasnya tidak sampai 1 m2, ada "dapur" yang dibuat sendiri. Di samping kompor, masih tersisa sebatang kubis.

Mereka sering mendapatkan makanan dan minyak dari pemberian teman mamanya. Satu hari tiga kali makan. Ketika makan malam, menunya agak lumayan.

Mereka jarang makan daging, namun setiap minggu keluarga ini akan mengeluarkan sedikit biaya untuk memenuhi gizi anaknya.

"Namun setiap kali makan, Tse Tse akan membiarkan saya makan dulu, baru dia makan." Kata Xiong Chun.

Mama Tse Tse bekerja di pabrik. Setiap siang, dia akan menyisakan sedikit waktu untuk pulang ke rumah menanak nasi untuk suaminya. Setelah menyuapi, dia segera kembali ke pabrik. Tanggung jawab merawat suaminya, semua di bebankan ke pundak Tse Tse, putri semata wayangnya.

Xiong Chun memberitahu wartawan, setiap pagi jam 6.30 begitu jam alarm berbunyi, Tse Tse akan bangun, cuci muka dan sikat gigi, dia juga membantu papanya mencuci muka, selesai itu dia akan memijat tangan dan kaki papanya, kira-kira 10 menit. Pulang sekolah sore, dia akan memijat papanya lagi, malam setelah memandikan papanya, dia akan memijat papanya lagi, baru tidur.

"Agar bisa lebih banyak membantu mamanya, Tse Tse kadang-kadang ikut mamanya memungut barang bekas untuk menambah penghasilan keluarga." Xiong Chun sangat sayang pada anaknya. Tetangga di sekeliling sangat terharu dan berkata: "Tse Tse sangat pengertian. Kita semua merasa bangga ada anak seperti ini."

Mama Tse Tse mengajaknya memungut botol air bekas untuk menambah penghasilan. Suatu ketika, Tse Tse memungut sebuah mainan mobil plastik bekas di tempat sampah. Bagaikan mendapat barang pusaka, setiap hari Tse Tse akan main sebentar dengan mobil plastiknya itu.

Tse Tse punya satu boneka kecil yang lucu. Boneka itu sangat disayanginya. Malam hari, ia selalu membawa boneka itu untuk tidur bersama.

"Dia melihat boneka itu di toko. Beberapa kali dia memintanya. Harganya 5 Yuan. Awalnya saya menolaknya, namun saya tidak tega. Akhirnya saya nekat membelikannya," kata Xiong Chun.

Untuk menghemat biaya listrik, setiap hari sepulang sekolah Tse Tse akan memindahkan "meja kecilnya" keluar rumah. Ia mengejar siang hari untuk menyelesaikan PR-nya.

"Biaya sekolahnya selama setahun sekitar 3.000 sampai 4.000 Yuan, kami tidak sanggup membayarnya. Karena tidak ada uang, tahun ini saya juga tidak berobat lagi," kata Xiong Chun.

Beberapa waktu yang lalu, dia berbicara dengan istrinya agar Tse Tse berhenti sekolah saja.

Xiong Chun berteriak, "Untuk biaya hidup sehari-hari saja bermasalah, masih harus biayai sekolah, sungguh susah. Bila sudah tidak mungkin, biar dia berhenti saja." Begitu mendengar ucapan papanya, Tse Tse yang sedang bermain boneka langsung menangis.

Xiong Chun mendekati Tse Tse dan membujuknya: "Papa akan usahakan biar kamu bisa sekolah!" Setelah dibujuk beberapa kali, Tse Tse baru berhenti menangis. Dengan tangan mungilnya dia menyeka air matanya.

"Terhadap Tse Tse, saya sungguh menyesal," ucap Xiong Chun sambil menangis tersedu. Xiong Chun berkata: "Saya percaya, saya pasti akan sembuh. Tse Tse adalah harapan saya."

Sumber : http://forum.kompas.com/internasional/42051-kisah-mengharukan-anak-6-tahun-memulung-demi-menghidupi-ayahnya-yang-lumpuh.html

Akibat Tidak Bisa Memberikan Keturunan



Lima tahun telah berlalu semenjak kami menjadi suami istri. Waktu terasa begitu cepat berjalan walaupun kami hanya hidup berdua saja. Karena sampai saat ini, aku belum bisa memberikannya seorang malaikat kecil (bayi) di tengah keharmonisan rumah tangga kami.

Suamiku adalah anak lelaki satu-satunya dalam keluarganya, sehingga aku harus berusaha untuk mendapatkan penerus generasi baginya.

Alhamdulillah, saat itu suamiku mendukungku. Ia menganggap bahwa Allah belum memercayai kami untuk menjaga titipan-Nya, sehingga buah hati itu tak juga muncul di tengah keluarga kami.

Namun keluarganya mulai resah. Sejak awal pernikahan kami, ibu dan adik suamiku tidak menyukaiku. Aku sering mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dari mereka, namun aku selalu berusaha menutupi hal itu dari suamiku. Di depan suamiku mereka memperlakukanku dengan sangat baik. Namun di belakang suamiku, aku dihina-hina oleh mereka.

Suatu ketika, tepat satu tahun usia pernikahan kami, suamiku mengalami kecelakaan. Mobilnya hancur. Namun, alhamdulillah, suamiku selamat dari maut.

Ia dirawat di rumah sakit, saat belum sadarkan diri. Aku selalu menemaninya siang dan malam sambil kubacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Aku sibuk bolak-balik dari rumah sakit ke tempat aku melakukan aktivitas sosialku. Aku sibuk mengurus suamiku yang sakit, karena kecelakaan.

Beberapa waktu ketika aku kembali ke rumah sakit, aku melihat di dalam kamarnya ada ibu, adik-adiknya, dan teman-teman suamiku. Dan di saat itu juga, aku melihat ada seorang wanita yang mengobrol dengan ibu mertuaku dengan sangat akrab. Mereka tertawa menghibur suamiku.

Alhamdulillah, suamiku ternyata sudah sadar. Aku menangis ketika melihat suamiku sudah sadar. Namun aku tak boleh sedih di hadapannya, segera kuusap air mataku sebelum masuk ke ruang itu.

Kubuka pintu yang tertutup rapat itu sambil berucap, "Assalammu’alaikum" dan mereka menjawab salamku. Aku berdiam sejenak di depan pintu dan mereka semua melihatku. Suamiku menatapku penuh manja, mungkin ia kangen padaku karena sudah 5 hari matanya selalu tertutup.

Tangannya melambai, mengisyaratkan aku untuk memegang tangannya. Setelah aku menghampirinya, kucium tangannya sambil berkata, "Assalammu’alaikum." Ia pun menjawab salamku dengan suaranya yang lirih namun penuh dengan cinta. Aku pun tersenyum melihat wajahnya.

Lalu, Ibu mertuaku berbicara padaku: "Fis, kenalkan ini Desi teman Fikri."

Seketika, aku teringat cerita dari suamiku. Dulu ada teman baiknya yang pernah cinta padanya. Perempuan itu bernama Desi. Dia sangat akrab dengan keluarga suamiku. Kini, akhirnya aku bertemu dengan orang itu. Aku pun berjabat tangan dengan sopan.

Di dalam ruangan tersebut aku tak banyak bicara, karena tak mengerti apa yang mereka bicarakan. Aku lebih memilih sibuk membersihkan dan mengobati luka-luka di kepala suamiku. Namun baru sebentar aku membersihkan mukanya, tiba-tiba adik iparku yang mengajakku keluar. Ia minta ditemani ke kantin. Suamiku pun memberi ijin. Kemudian aku pun menemaninya. Namun ketika sampai di luar ruangan, adik iparku berkata, "Lebih baik kau pulang saja, ada kami yang menjaga abang di sini. Kau istirahat saja."

Namun anehnya, aku tak diperbolehkan berpamitan dengan suamiku, dengan alasan suamiku harus banyak beristirahat, karena psikologisnya masih labil. Aku berdebat dengan adik iparku, mengapa aku tidak diijinkan berpamitan dengan suamiku. Namun tiba-tiba ibu mertuaku datang menghampiriku dan mengatakan hal yang sama. Dia akan memberi alasan pada suamiku mengapa aku pulang tak berpamitan padanya. Suamiku selalu menurut apa kata ibunya, baik ibunya salah ataupun tidak, suamiku tetap saja membelanya. Akhirnya aku pun pergi meninggalkan rumah sakit itu dengan linangan air mata.

Sejak saat itu aku tidak pernah diijinkan untuk menjenguk suamiku, sampai ia kembali dari rumah sakit. Aku hanya bisa menangis dalam kesendirianku. Menangis, mengapa mereka sangat membenciku?

Hari itu, aku menangis tanpa sebab. Yang ada di benakku hanyalah bahwa aku takut kehilangannya. Aku takut cintanya dibagi dengan yang lain. Pagi itu, pada saat aku membersihkan pekarangan rumah kami, suamiku memanggilku ke taman belakang. Ia baru saja selesai sarapan. Ia mengajakku duduk di ayunan favorit kami sambil melihat ikan-ikan yang berenang di kolam air mancur.

Aku bertanya, "Ada apa kamu memanggilku?"

Ia berkata, "Besok aku akan menjenguk keluargaku di Sabang."

Aku menjawab, "Ya, Sayang. Aku tahu. Aku sudah mengemasi barang-barangmu di travel bag dan kamu sudah membeli tiket, bukan?"

"Ya, tapi aku akan lama di sana. Sekitar 3 minggu. Aku juga sudah lama tidak bertemu dengan keluarga besarku sejak kita menikah dan aku akan pulang dengan mamaku," jawabnya tegas.

"Mengapa baru sekarang bicara, aku pikir hanya seminggu saja kamu di sana," tanyaku balik kepadanya penuh dengan rasa penasaran dan sedikit rasa kecewa

"Mama minta aku yang menemaninya saat pulang nanti," jawabnya tegas.

"Sekarang aku ingin seharian dengan kamu, karena nanti 3 minggu kita tidak bertemu, ya kan?", lanjutnya lagi sambil memelukku dan mencium keningku.

Hatiku sedih dengan keputusannya, tapi aku tak boleh menunjukkan padanya.

Aku bahagia karena dimanja dengan sikap suami yang penuh dengan rasa sayang dan cinta, walau terkadang ia bersikap kurang adil terhadapku. Aku hanya bisa tersenyum saja. Padahal, aku ingin bersama suamiku. Namun keluarganya tidak menyukaiku dan cemburu padaku, karena suamiku sangat sayang padaku. Kemudian aku memutuskan agar ia saja yang pergi. Selain itu, kami juga harus berhemat dalam pengeluaran kami.

Malam sebelum kepergiannya, aku menangis sambil membereskan keperluan yang akan dibawanya ke Sabang. Ia menatapku dan menghapus air mata yang jatuh dipipiku. Aku memeluk erat dirinya. Hatiku bergumam tak merelakan dia pergi, seakan terjadi sesuatu. Namun aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Aku hanya bisa menangis karena akan ditinggal pergi olehnya. Aku tidak pernah ditinggal pergi selama itu, karena kami selalu bersama-sama ke mana pun ia pergi. Apa mungkin aku sedih karena aku sendirian dan tidak memiliki teman? Biasanya, hanya pembantu sajalah teman mengobrolku. Hatiku sedih kaena akan ditinggal pergi olehnya.

Sampai keesokan harinya, aku terus menangis. Menangisi kepergiannya. Aku tak tahu mengapa sesedih ini, perasaanku tak enak, tapi aku tak boleh berburuk sangka. Aku harus percaya apada suamiku. Dia pasti akan selalu menelponku.

Berjauhan dengan suamiku, aku merasa sangat tidak nyaman. Aku merasa sendiri. Untunglah aku mempunyai kesibukan sebagai seorang aktivis, jadinya aku tak terlalu kesepian ditinggal pergi ke Sabang.

Saat kami berhubungan jarak jauh, komunikasi kami memburuk dan aku pun jatuh sakit. Rahimku terasa sakit sekali seperti dililit oleh tali. Tak tahan aku menahan rasa sakit dirahimku ini, sampai-sampai aku mengalami pendarahan. Aku dilarikan ke rumah sakit oleh adik laki-lakiku yang kebetulan menemaniku. Dokter memvonis aku terkena kanker mulut rahim stadium 3.

Aku menangis. Apa lagi yang bisa aku banggakan? Mertuaku akan semakin menghinaku. Suamiku yang malang, dia selalu berharap akan punya keturunan dari rahimku. Namun, aku tak bisa memberikannya keturunan. Aku hanya bisa memeluk adikku.

Aku kangen pada suamiku. Aku selalu menunggu dan bertanya-tanya, "Kapankah ia akan pulang?" Aku tak tahu. Sementara aku tidak tahu mengapa ia selalu marah-marah, jika menelponku. Bagaimana aku akan menceritakan kondisiku, jika ia selalu marah-marah terhadapku? Aku memilih untuk menutupi keadaanku dan aku juga tak mau membuatnya khawatir selama ia berada di Sabang.

Lebih baik, aku bercerita nanti ketika ia sudah pulang dari Sabang. Setiap hari, aku menanti suamiku pulang. Hari demi hari aku hitung. Sudah 3 minggu suamiku di Sabang. Malam itu, ketika aku sedang melihat foto-foto kami, ponselku berbunyi menandakan ada sms yang masuk. Kubuka kotak masuk pesan ponselku, ternyata dari suamiku. Ia menulis, "Aku sudah beli tiket untuk pulang. Aku pulangnya satu hari lagi. Aku akan kabarin lagi." Hanya itu saja yang diinfokannya. Aku ingin marah, tapi aku pendam saja ego yang tidak baik itu. Hari yang aku tunggu pun tiba, aku menantinya di rumah.

Sebagai seorang istri, aku pun berdandan yang cantik dan memakai parfum kesukaan suamiku untuk menyambutnya pulang. Nanti aku juga akan menyelesaikan masalah komunikasi kami yang memburuk akhir-akhir ini.

Bel pun berbunyi, kubukakan pintu untuknya dan ia pun mengucap salam. Sebelum masuk, aku pegang tangannya ke depan teras. Aku membungkuk untuk melepaskan sepatu dan kaos kakinya. Lalu kucuci kedua kakinya. Aku tak mau ada setan yang masuk ke rumah kami.

Setelah itu, aku pun berdiri langsung mencium tangannya, tapi apa reaksinya? Masya Allah, ia tidak mencium keningku. Ia hanya diam dan langsung naik ke ruangan atas. Kemudian dia mandi dan tidur tanpa menanyakan kabarku. Aku hanya berpikir, mungkin dia capek. Aku pun segera merapikan bawaannya lalu aku tidur. Malam menunjukkan 1/3 malam, mengingatkan aku pada tempat mengadu yaitu Allah, Sang Maha Pencipta. Biasanya kami selalu berjamaah, tapi karena melihatnya tidur sangat pulas, aku tak tega membangunkannya. Aku hanya mengeelus wajahnya dan aku cium keningnya. Lalu, aku shalat Tahajud 8 rakaat plus witir 3 rakaat.

Aku mendengar suara mobilnya. Aku terbangun lalu aku melihat dirinya dari balkon kamar kami. Dia sudah bersiap-siap pergi. Aku berteriak memanggilnya, tapi ia tak mendengar. Kemudian aku ambil jilbabku dan aku berlari ke bawah tanpa memedulikan darah yang bercecer dari rahimku. Aku mengejarnya tapi ia begitu cepat pergi. Aku merasa ada yang aneh dengan suamiku. Ada apa dengannya? Mengapa ia bersikap tidak biasa terhadapku?

Aku tidak bisa diam begitu saja, firasatku mengatakan ada sesuatu. Saat itu juga aku langsung menelpon ke rumah mertuaku dan kebetulan Dian yang mengangkat telponnya. Aku bercerita dan bertanya apa yang sedang terjadi dengan suamiku. Dengan enteng, ia menjawab, "Lo pikir aja sendiri!" Telepon pun langsung terputus.

Ada apa ini? Tanya hatiku penuh dalam kecemasan. Mengapa suamiku berubah setelah ia kembali dari kota kelahirannya? Mengapa ia tak mau berbicara padaku, apalagi memanjakan aku?

Semakin hari, ia menjadi orang yang pendiam, seakan ia telah melepas tanggung jawabnya sebagai seorang suami. Kami hanya berbicara seperlunya saja. Aku selalu diintrogasinya. Dia selalu bertanya, aku dari mana dan mengapa pulang terlambat. Ia bertanya dengan nada yang keras. Suamiku telah berubah.

Bahkan, yang membuat ku kaget, aku pernah dituduhnya berzina dengan mantan pacarku. Ingin rasanya aku menampar suamiku yang telah menuduhku serendah itu, tapi aku selalu ingat bahwa bagaimana pun salahnya seorang suami, statusnya tetap di atas para istri, dan harus tetap dihormati. Itu pedoman yang aku pegang. Aku hanya berdoa semoga suamiku sadar akan prilakunya.

Dua tahun berlalu, suamiku tak kunjung berubah juga. Aku menangis setiap malam, lelah menanti perubahan sikapnya. Kami seperti orang asing yang baru saja berkenalan. Kemesraan yang kami ciptakan dulu telah sirna. Walaupun hubungan kami seperti itu, aku tetap melayaninya dan menyiapkan segala yang ia perlukan. Penyakitku pun masih aku simpan dengan baik dan sekali pun ia tak pernah bertanya perihal obat yang aku minum. Kebahagiaanku telah sirna. Harapan untuk menjadi ibu pun telah aku pendam. Aku tak tahu kapan ini semua akan berakhir.

Aku bersyukur punya penghasilan sendiri dari aktivitasku sebagai seorang guru ngaji. Jadi, aku tak perlu meminta uang padanya untuk pengobatan kankerku. Aku pun hanya berobat semampuku.

Sungguh, suami yang dulu aku puja dan aku banggakan, sekarang telah menjadi orang asing bagiku. Setiap aku bertanya, ia selalu menyuruhku untuk berpikir sendiri. Tiba-tiba saja malam itu setelah makan malam, suamiku memanggilku. "Ya, ada apa Yah!" sahutku dengan memanggil nama kesayangannya "Ayah".

"Lusa kita siap-siap ke Sabang," jawabnya tegas.

"Ada apa? Mengapa?" Sahutku penuh dengan keheranan.

Astaghfirullah, suami ku yang dulu lembut tiba-tiba saja menjadi kasar. Dia membentakku. Sehingga, tak ada lagi kelanjutan diskusi di antara kami. Dia mengatakan, "Kau ikut saja jangan banyak tanya!"

Lalu aku pun bersegera mengemasi barang-barang yang akan dibawa ke Sabang sambil menangis, sedih karena suamiku kini tak kukenal lagi.

Dua tahun pacaran, lima tahun kami menikah, dan sudah dua tahun ia menjadi orang asing bagiku. Kulihat kamar kami yang dulu hangat penuh cinta yang dihiasi foto pernikahan kami, sekarang menjadi dingin. Lebih dingin daripada batu es. Aku menangis dengan kebingungan. Ingin rasanya aku berontak berteriak, tapi aku tak bisa.

Suamiku tak suka dengan wanita yang kasar, bicara dengan nada tinggi, suka membanting barang-barang. Dia bilang perbuatan itu menunjukkan sikap ketidakhormatan kepadanya. Aku hanya bisa bersabar menantinya bicara dan sabar mengobati penyakitku ini, dalam kesendirianku..

Kami telah sampai di Sabang. Aku masih merasa lelah karena semalaman aku tidak tidur dan terus berpikir. Keluarga besarnya juga telah berkumpul di sana,termasuk ibu dan adik-adiknya. Aku tidak tahu ada acara apa ini.

Aku dan suamiku pun masuk ke kamar kami. Suamiku tak betah di dalam kamar tua itu. Ia langsung keluar kamar dan bergabung dengan keluarga besarnya.

Baru saja aku membongkar koper kami dan ingin memasukkannya ke dalam lemari tua yang berada di dekat pintu kamar, lemari tua yang telah ada sebelum suamiku lahir, tiba-tiba Tante Lia, tante yang sangat baik padaku memanggilku untuk bersegera berkumpul di ruang tengah. Aku pun menuju ke ruang keluarga yang berada di tengah rumah besar itu, yang tampak seperti rumah jaman peninggalan Belanda.

Kemudian aku duduk di samping suamiku. Suamiku menunduk penuh dengan kebisuan. Aku tak berani bertanya padanya. Tiba-tiba saja neneknya, orang yang dianggap paling tua dan paling dihormati, membuka pembicaraan.

"Baiklah, karena kalian telah berkumpul, Nenek ingin bicara dengan kau, Fisha." Neneknya berbicara sangat tegas, dengan sorot mata yang tajam. "Ada apa ya Nek?" Sahutku dengan penuh tanya.

Nenek pun menjawab, "Kau telah bergabung dengan keluarga kami hampir 8 tahun. Sampai saat ini, kami tak melihat tanda-tanda kehamilan yang sempurna sebab selama ini kau selalu keguguran!" Aku menangis. Untuk inikah aku diundang kemari? Untuk dihina ataukah dipisahkan dengan suamiku?

"Sebenarnya, kami sudah punya calon untuk Fikri, dari dulu. Sebelum kau menikah dengannya. Namun, Fikri anak yang keras kepala, tak mau diatur, dan akhirnya menikahlah ia dengan kau." Neneknya berbicara sangat lantang, mungkin logat orang Sabang seperti itu semua. Aku hanya bisa tersenyum dan melihat wajah suamiku yang sedang menunduk. "Dan aku dengar dari ibu mertuamu, kau pun sudah berkenalan dengannya", neneknya masih melanjutkan pembicaraan itu. Sedangkan suamiku hanya terdiam, tapi aku melihat air matanya mengalir. Ingin aku peluk suamiku agar ia kuat dengan semua ini, tapi aku tak punya keberanian itu.

Neneknya masih saja berbicara panjang lebar dan yang terakhir dari ucapannya dengan mimik wajah yang sangat menantang adalah, "Kau maunya gimana? Kau dimadu atau diceraikan?" Masya Allah, kuatkan hati ini. Aku ingin jatuh pingsan. Hatiku seakan remuk mendengarnya, hancur hatiku. Mengapa keluarganya bersikap seperti ini terhadapku?

Aku selalu munutupi masalah ini dari kedua orang tuaku yang tinggal di Pulau Kayu. Mereka mengira aku sangat bahagia.

"Fish, jawab!." Dengan tegas, Ibunya langsung memintaku untuk menjawab. Aku langsung memegang tangan suamiku. Dengan tangan yang dingin dan gemetar, aku menjawab dengan tegas, "Walaupun aku tidak bisa berdiskusi dulu dengan imamku, tapi aku dapat berdiskusi dengannya melalui batin. Untuk kebaikan dan masa depan keluarga ini, aku akan menyambut baik seorang wanita baru di rumah kami."

Itu yang aku jawab, dengan kata lain aku rela cintaku dibagi. Pada saat itu juga, suamiku memandangku dengan tetesan air mata, tapi air mataku tak sedikit pun menetes di hadapan mereka. Aku lalu bertanya kepada suamiku, "Ayah, siapakah yang akan menjadi sahabatku di rumah kita nanti, Yah?" Suamiku menjawab, "Dia, Desi!"

Aku pun langsung menarik napas dan langsung berbicara, "Kapan pernikahannya berlangsung? Apa yang harus saya siapkan dalam pernikahan ini Nek?"

Ayah mertuaku menjawab, "Pernikahannya 2 minggu lagi."

"Baiklah kalo begitu, saya akan menelpon pembantu di rumah, untuk menyuruhnya mengurus KK kami ke kelurahan besok."

Setelah berbicara seperti itu, aku permisi untuk pamit ke kamar. Tak tahan lagi menahan air mata, aku berjalan sangat cepat. Aku buka pintu kamar dan langsung duduk di tempat tidur. Aku ingin berteriak, tapi aku sendiri di sini. Tak kuat rasanya menerima hal itu. Cintaku telah dibagi. Sakit. Diiringi akutnya penyakitku.

Apakah karena ini, suamiku menjadi orang yang asing selama 2 tahun terakhir? Aku berjalan menuju ke meja rias, kubuka jilbabku. Aku bercermin sambil bertanya-tanya, "Sudah tidak cantikkah aku?" Kuambil sisirku. Aku menyisiri rambutku yang setiap hari rontok. Kulihat wajahku, ternyata aku memang sudah tidak cantik lagi. Rambutku sudah hampir habis. Kepalaku sudah botak di bagian tengahnya.

Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Ternyata suamiku yang datang. Ia berdiri di belakangku. Tak kuhapus air mataku, aku bersegera memandangnya dari cermin meja rias itu.

Kami diam sejenak, lalu aku mulai pembicaraan, "Terima kasih, Ayah. Kamu memberi sahabat kepadaku. Jadi, aku tak perlu sedih lagi saat ditinggal pergi kamu nanti! Iya, kan?"

Suamiku mengangguk sambil melihat kepalaku, tapi tak sedikit pun ia tersenyum dan bertanya kenapa rambutku. Dia hanya mengatakan jangan salah memakai shampo. Dalam hatiku bertanya, "Mengapa ia sangat cuek?" Dan ia sudah tak memanjakanku lagi. Lalu dia berkata, "Sudah malam, kita istirahat, yuk!" "Aku shalat Isya dulu, baru aku tidur", jawabku tenang.

Dalam sholat dan tidurku, aku menangis. Kuhitung mundur waktu, kapan aku akan berbagi suami dengannya. Aku pun ikut sibuk mengurusi pernikahan suamiku. Aku tak tahu kalau Desi orang Sabang juga. Sudahlah, ini mungkin takdirku. Aku ingin suamiku kembali seperti dulu, yang sangat memanjakan aku dengan rasa sayang dan cintanya.

Malam sebelum hari pernikahan suamiku, aku menulis curahan hatiku di laptopku. Di laptop, aku menulis saat-saat terakhirku melihat suamiku. Aku marah pada suamiku yang telah menelantarkanku. Aku menangis melihat suamiku yang sedang tidur pulas. Apa salahku, sampai ia berlaku sekejam itu kepadaku? Aku simpan curahan hatiku itu di laptop dengan judul, "Aku Mencintaimu Suamiku."

Hari pernikahan telah tiba. Aku telah siap, tapi aku tak sanggup untuk keluar. Aku berdiri di dekat jendela. Aku melihat matahari, karena mungkin saja aku takkan bisa melihat sinarnya lagi. Aku berdiri sangat lama, lalu suamiku yang telah siap dengan pakaian pengantinnya masuk dan berbicara padaku. "Apakah kamu sudah siap?"

Kuhapus air mata yang menetes di wajahku sambil berkata: "Nanti jika ia telah sah jadi istrimu, ketika kamu hendak membawa ia masuk ke dalam rumah ini, cucilah kakinya sebagaimana kamu mencuci kakiku dulu. Lalu, ketika kalian masuk ke dalam kamar pengantin, bacakan doa di ubun-ubunnya, sebagaimana yang kamu lakukan padaku dulu. Lalu setelah itu...," perkataanku terhenti karena tak sanggup aku meneruskan pembicaraan itu. Aku ingin menagis dengan keras.

Tiba-tiba, suamiku berkata, "Lalu apa, Bunda?" Aku kaget mendengar ucapannya. Yang tadinya aku menunduk, seketika aku langsung menatapnya dengan mata yang berbinar-binar. "Bisa kamu ulangi apa yang kamu ucapkan barusan?" pintaku untuk menyakini bahwa kupingku tidak salah mendengar.

Dia mengangguk dan berkata, "Baik akan ayah ulangi. Lalu apa Bunda?" katanya sambil mengelus wajah dan menghapus air mataku.

Dia tersenyum sambil berkata, "Kita liat saja nanti, ya?!" Dia memelukku dan melanjutkan, "Bunda adalah wanita yang paling kuat yang Ayah temui, selain mama."

Kemudian ia mencium keningku, aku langsung memeluknya erat dan berkata, "Ayah, apakah ini akan segera berakhir? Ayah ke mana saja? Mengapa Ayah berubah? Aku kangen sama Ayah? Aku kangen belaian kasih sayang Ayah. Aku kangen dengan manjanya Ayah. Aku kesepian, Ayah. Dan satu hal lagi yang Ayah harus tahu, bahwa aku tidak pernah berzina! Dulu, waktu awal kita pacaran, aku memang belum bisa melupakannya. Namun setelah 4 bulan bersama Ayah, baru bisa aku terima, jika yang di hadapanku saat itu adalah lelaki yang aku cari. Bukan berarti aku pernah berzina Ayah." Aku langsung bersujud di kakinya dan mencium kaki imamku sambil berkata, "Aku minta maaf Ayah, telah membuatmu susah." Saat itu juga, diangkatnya badanku. Ia hanya menangis.

Ia memelukku sangat lama, dua tahun aku menanti dirinya kembali. Tiba-tiba perutku sakit. Ia menyadari bahwa ada yang tidak beres denganku dan ia bertanya, "Bunda baik-baik saja, kan?" tanyanya dengan penuh khawatir. Aku pun menjawab, "Bisa memeluk dan melihat kamu kembali seperti dulu itu sudah membuatku baik, Yah. Aku hanya tak bisa bicara sekarang." Karena dia akan menikah, aku tak mau membuatnya khawatir. Dia harus khusyuk menjalani prosesi akad nikah tersebut.

Setelah tiba di masjid, ijab kabul pun dimulai. Aku duduk di seberang suamiku. Aku melihat suamiku duduk berdampingan dengan perempuan itu. Hatiku cemburu. Aku ingin berteriak dan mengatakan, "Ayah jangan!", tapi aku ingat akan kondisiku.

Jantung ini berdebar kencang saat mendengar ijab kabul tersebut. Begitu ijab kabul selesai, aku menarik napas panjang. Tante Lia, tante yang baik itu, memelukku. Dalam hati, aku berusaha untuk menguatkan hati ini. Ya, aku kuat.

Tak sanggup aku melihat mereka duduk bersanding di pelaminan. Orang-orang yang hadir di acara resepsi itu iba melihatku. Mereka melihatku dengan tatapan sangat aneh. Mungkin mereka melihat wajahku selalu tersenyum, tapi di balik itu, hatiku menangis.

Sampai di rumah, suamiku langsung masuk ke dalam rumah begitu saja. Tak mencuci kakinya. Aku sangat heran dengan perilakunya. Apa iya, dia tidak suka dengan pernikahan ini? Sementara itu, Desi disambut hangat di dalam keluarga suamiku. Tak seperti aku dahulu, yang dimusuhi.

Malam itu aku tak bisa tidur. Bagaimana bisa? Suamiku akan tidur dengan perempuan yang sangat aku cemburui. Aku tak tahu apa yang sedang mereka lakukan di dalam kamar.

Saat sepertiga malam, aku keluar untuk berwudhu. Aku melihat sosok lelaki yang mirip suamiku tidur di sofa ruang tengah. Kudekati, lalu kulihat. Masya Allah, suamiku tak tidur dengan wanita itu. Ia ternyata tidur di sofa. Aku duduk di sofa itu sambil menghelus wajahnya yang lelah. Tiba-tiba ia memegang tangan kiriku, tentu saja aku kaget.

"Kamu datang ke sini, aku tahu," ia berkata seperti itu. Aku tersenyum dan mengajaknya shalat Lail. Setelah shalat ia berkata, "Maafkan aku, aku tak boleh menyakitimu. Kamu menderita karena egoku. Besok kita pulang ke Jakarta. Biar Desi pulang dengan mama, papa dan adik-adikku"

Aku menatapnya dengan penuh keheranan. Namun ia langsung mengajakku untuk istirahat. Saat tidur, ia memelukku sangat erat. Aku tersenyum saja. Sudah lama ini tidak terjadi. Ya Allah, apakah Engkau akan menyuruh Malaikat Maut untuk mengambil nyawaku sekarang ini, karena aku telah merasakan kehadirannya saatini? Namun, bisakah Engkau ijinkan aku untuk merasakan kehangatan dari suamiku yang telah hilang selama 2 tahun ini?

Suamiku berbisik, "Bunda kok kurus?" Aku menangis dalam kebisuan. Pelukannya masih bisa aku rasakan. Aku pun berkata, "Ayah kenapa tidak tidur dengan Desi?"

"Aku kangen sama kamu, Bunda. Aku tak mau menyakitimu lagi. Kamu sudah sering terluka oleh sikapku yang egois." Dengan lembut suamiku menjawab seperti itu.

Lalu suamiku berkata, "Bun, Ayah minta maaf telah menelantarkan Bunda. Selama Ayah di Sabang, Ayah dengar kalau Bunda tidak tulus mencintai Ayah. Bunda seperti mengejar sesuatu, seperti mengejar harta ayah. Dan satu lagi, Ayah pernah melihat sms Bunda dengan mantan pacar Bunda. Isinya kalau bunda gak mau berbuat seperti itu dan tulisan seperti itu diberi tanda kutip ("seperti itu"). Ayah ingin ngomong, tapi takut Bunda tersinggung dan Ayah berpikir kalau Bunda pernah tidur dengannya sebelum Bunda bertemu Ayah. Ayah dimarahi oleh keluarga Ayah, karena ayah terlalu memanjakan Bunda."

Hatiku sakit ketika difitnah oleh suamiku. Ketika tidak ada kepercayaan di dalam dirinya, hanya karena ucapan keluarganya, yang tidak pernah melihat betapa tulusnya aku mencintai pasangan seumur hidupku ini.

Aku hanya menjawab, "Aku sudah ceritakan itu kan, Yah? Aku tidak pernah berzina dan aku mencintaimu setulus hatiku. Jika aku hanya mengejar hartamu, mengapa aku memilih kamu? Padahal banyak lelaki yang ingin meminangku dan lebih mapan darimu waktu itu, Yah. Jika aku hanya mengejar hartamu, aku tak mungkin setiap hari menangis karena menderita mencintaimu."

Entah aku harus bahagia atau sedih karena sahabatku sendirian di kamarpengantin itu. Malam itu, aku menyelesaikan masalahku dengan suamiku dan berusaha memaafkannya beserta keluarganya. Karena aku tak mau mati dengan hati yang penuh dengan rasa benci.

Keesokan harinya...

Ketika aku ingin terbangun untuk mengambil wudhu, kepalaku pusing. Rahimku sakit sekali. Aku mengalami pendarahan dan suamiku kaget bukan main. Ia langsung menggendongku dan membawaku ke rumah sakit. Dari kejauhan aku mendengar suara zikir suamiku. Aku merasakan tanganku basah. Ketika kubuka mataku, kulihat wajah suamiku penuh dengan rasa kekhawatiran.

Ia menggenggam tanganku dengan erat dan mengatakan, "Bunda, Ayah minta maaf..." Berkali-kali ia mengucapkan hal itu. Dalam hatiku, apa ia tahu apa yang terjadi padaku?

Aku berkata dengan suara yang lirih, "Yah, Bunda ingin pulang. Bunda ingin bertemu kedua orang tua Bunda. Anterin Bunda ke sana ya, Yah. Ayah jangan berubah lagi ya! Janji ya, Yah! Bunda sayang banget sama Ayah."

Tiba-tiba saja, kakiku sakit, sangat sakit. Sakitnya semakin ke atas. Kakiku sudah tak bisa bergerak lagi. Aku tak kuat lagi memegang tangan suamiku. Kulihat wajahnya yang tampan, berlinang air mata.

Aku bahagia melihat suamiku punya pengganti diriku.

Aku bahagia selalu melayaninya dalam suka dan duka. Menemaninya ketika ia mengalami kesulitan, dari saat kami berkenalan sampai kami menikah. Aku bahagia bersuamikan dia. Dia adalah nafasku.

Untuk Ibu mertuaku: "Maafkan aku telah hadir di dalam kehidupan anakmu, sampai aku hidup di dalam hati anakmu. Ketahuilah Ma, dari dulu aku selalu berdoa agar Mama merestui hubungan kami. Mengapa engkau fitnah diriku di depan suamiku, apa engkau punya buktinya, Ma? Mengapa engkau sangat cemburu padaku, Ma? Fikri tetap milikmu, Ma. Aku tak pernah menyuruhnya untuk durhaka kepadamu. Dari dulu aku selalu mengerti apa yang kamu inginkan dari anakmu, tapi mengapa kau benci diriku? Dengan Desi kau sangat baik tetapi denganku, menantumu, kau bersikap sebaliknya."

Setelah kubuka laptop, kubaca curhatan istriku.

Ayah, mengapa keluargamu sangat membenciku? Aku dihina oleh mereka, Ayah. Mengapa mereka bisa baik terhadapku pada saat ada dirimu? Pernah suatu ketika aku bertemu Dian di jalan. Aku menegurnya karena dia adik iparku, tapi aku disambut dengan wajah ketidaksukaan. Sangat terlihat, Ayah.

Namun ketika engkau bersamaku, Dian sangat baik, sangat manis, dan ia memanggilku dengan panggilan yang sangat menghormatiku. Mengapa seperti itu, Ayah?

Aku tak bisa berbicara tentang ini padamu, karena aku tahu kamu pasti membela adikmu, tak ada gunanya, Yah..

Aku diusir dari rumah sakit. Aku tak boleh merawat suamiku. Aku cemburu pada Desi yang sangat akrab dengan mertuaku. Tiap hari ia datang ke rumah sakit bersama mertuaku. Aku sangat marah. Jika aku membicarakan hal ini pada suamiku, ia akan pasti membela Desi danibunya. Aku tak mau sakit hati lagi. Ya Allah, kuatkan aku, maafkan aku. Engkau Maha Adil. Berilah keadilan itu padaku, Ya Allah.

Ayah sudah berubah. Ayah sudah tak sayang lagi padaku. Aku berusaha untuk mandiri, Ayah. Aku tak akan bermanja-manja lagi padamu. Aku kuat Ayah, dalam kesakitan ini. Lihatlah Ayah, aku kuat walaupun penyakit kanker ini terus menyerangku. Aku bisa melakukan ini semua sendiri, Ayah.

Besok suamiku akan menikah dengan perempuan itu. Perempuan yang aku benci, yang aku cemburui. Namun aku tak boleh egois, ini untuk kebahagian keluarga suamiku. Aku harus sadar diri. Ayah, sebenarnya aku tak mau diduakan olehmu. Mengapa harus Desi, yang menjadi maduku? Ayah, aku masih tak rela. Tapi aku harus ikhlas menerimanya.

Pagi nanti, suamiku akan melangsungkan pernikahan keduanya. Semoga saja aku masih punya waktu untuk melihatnya tersenyum untukku. Aku ingin sekali merasakan kasih sayangnya yang terakhir. Sebelum ajal ini menjemputku.

Ayah, aku kangen Ayah..

Dan kini aku telah membawamu ke orang tuamu, Bunda. Aku akan mengunjungimu sebulan sekali bersama Desi di Pulau Kayu ini. Aku akan selalu membawakanmu bunga mawar yang berwana pink yang mencerminkan keceriaan hatimu walau sakit tertusuk duri. Bunda tetap cantik, selalu tersenyum di saat tidur. Bunda akan selalu hidup di hati ayah.

Bunda, Desi tak sepertimu, yang tidak pernah marah. Desi sangat berbeda denganmu. Ia tak pernah membersihkan telingaku, rambutku tak pernah di creambathnya. Kakiku pun tak pernah dicucinya. Ayah menyesal telah menelantarkanmu selama dua tahun. Bunda sakit pun aku tak peduli, kau hidup dalam kesendirianmu. Seandainya Ayah tak menelantarkan Bunda, mungkin ayah masih bisa tidur dengan belaian tangan Bunda yang halus. Sekarang Ayah sadar, bahwa Ayah sangat membutuhkan bunda.

Bunda, kamu wanita yang paling tegar yang pernah kutemui. Aku menyesal telah asyik dalam ke-egoanku. Bunda, maafkan aku. Bunda tidur tetap manis. Senyum manjamu terlihat di tidurmu yang panjang. Maafkan aku, tak bisa bersikap adil dan membahagiakanmu. Aku selalu mengiyakan apa kata ibuku, karena aku takut menjadi anak durhaka.

Maafkan aku. Ketika kau difitnah oleh keluargaku, aku percaya begitu saja. Apakah Bunda akan mendapat pengganti ayah di surga sana? Apakah Bunda tetap menanti ayah di sana? Tetap setia di alam sana? Tunggulah Ayah di sana, Bunda. Bisa, kan? Seperti Bunda menunggu Ayah di sini. Aku mohon. Ayah Sayang Bunda.

Sumber : http://kisah-kisahmenyentuhhati.blogspot.com